Scroll Untuk Lanjut Membaca

​SUMBA BARAT DAYA, NTT, BTN — Bencana alam melanda wilayah Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur. Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,1 yang mengguncang pada Minggu, 4 Oktober 2026 pukul 05.55 WIB, dengan pusat gempa berada 14 kilometer barat daya Kodi, menyisakan dampak kerusakan cukup parah di sejumlah kawasan. 5/10/2026

​Guncangan dahsyat tersebut memicu kerusakan signifikan pada bangunan tempat tinggal, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, hingga situs budaya warga. Salah satu lokasi terdampak parah berada di Kampung Kacaru, Desa Wainyapu, Kecamatan Kodi Balaghar, di mana bangunan pemukiman hingga situs sakral mengalami kerusakan mendasar.

​Salah satu dampaknya adalah kerusakan pada batu kubur megalitikum yang merupakan situs adat serta sakral bagi masyarakat setempat. Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, guncangan gempa membuat susunan batu kubur retak hebat dan pintu penutupnya bergeser hingga terbuka, sampai isi di bagian dalam makam terlihat oleh warga.

​Kejadian pada batu kubur adat tersebut tak pelak mengejutkan warga sekitar yang menyaksikannya secara langsung. Selain rasa trauma akibat guncangan gempa yang kuat, fenomena terbukanya makam leluhur ini turut menyelimuti suasana warga dengan rasa cemas dan ketakutan.

​Kerusakan meluas juga melanda permukiman warga di berbagai titik, mulai dari wilayah Kodi, Wewewa, hingga Loura. Banyak dinding rumah huni warga yang retak parah hingga atapnya runtuh, membuat para pemilik rumah enggan dan takut untuk kembali memasuki hunian mereka.

​Dampak gempa turut menyasar sektor pelayanan publik. Gedung Sekolah Dasar (SD) dan bangunan gereja di beberapa desa dilaporkan mengalami retak dinding serta kerusakan plafon yang rontok. Demi keselamatan bersama, seluruh aktivitas belajar-mengajar dan kegiatan peribadatan terpaksa dihentikan sementara.

​Menyikapi musibah ini, masyarakat berharap pemerintah daerah dan dinas terkait segera mengambil langkah cepat di lapangan. Kehadiran pemerintah sangat dinantikan untuk melakukan pendataan menyeluruh serta menyalurkan bantuan darurat yang sangat dibutuhkan warga terdampak.

​Harapan besar digantungkan kepada BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya untuk segera melakukan asesmen kerusakan dan mendirikan tenda darurat, Dinas Pendidikan guna penanganan gedung sekolah, Dinas Sosial untuk penyaluran sembako, serta Pemerintah Daerah SBD dalam mengkaji penetapan status tanggap darurat bencana.

​”Ini musibah bersama. Kami mohon pemerintah jangan tutup mata. Rumah kami rusak, gereja kami retak, bahkan kubur leluhur kami terbuka. Kami sangat membutuhkan bantuan,” ujar salah satu tokoh adat Kampung Kacaru dengan nada haru. Hingga malam hari, mayoritas warga masih memilih bertahan di halaman rumah dengan penerangan seadanya lantaran khawatir akan potensi gempa susulan.