LUMBI-LUMBIA – BTN 15/05/2026 Tragedi kemanusiaan kembali terjadi di ruas jalan menuju Rumah Sakit (RS) Pratama Bilabanggai, Kecamatan Buko Selatan. Kali ini, kegagalan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai Kepulauan dalam menyediakan infrastruktur yang layak harus dibayar mahal dengan cucuran darah seorang tenaga kesehatan, Bidan Stevi Mbolian, yang mengalami kecelakaan tunggal pada Jumat (15/05/2026).
Insiden memilukan ini terjadi saat Bidan Stevi bersama suami dan anaknya dalam perjalanan menuju tempat ibadah. Nahas, kendaraan yang mereka tumpangi terhempas akibat kondisi jalan yang lebih mirip kubangan daripada akses menuju fasilitas kesehatan utama. Bidan Stevi dilaporkan mengalami luka robek serius hingga harus menerima 20 jahitan, sementara anak dan suaminya mengalami trauma mendalam.
Kejadian ini seolah menjadi tamparan keras sekaligus pembuktian atas kritik yang disuarakan beberapa hari lalu. Belum kering tinta pemberitaan mengenai aksi heroik para nakes RS Pratama Bilabanggai yang turun tangan menambal jalan secara swadaya, kini “jalan maut” tersebut benar-benar memakan korban dari kalangan mereka sendiri.
Kondisi ini memicu kritik pedas dari berbagai elemen masyarakat, termasuk Ketua Partai, Jufri Hermawan. Ia menegaskan bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Banggai Kepulauan seolah “mati rasa” dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat serta para pejuang kesehatan yang setiap hari bertaruh nyawa melintasi jalur hancur tersebut.
Menanggapi insiden berdarah ini, Wakil Bupati Banggai Kepulauan akhirnya angkat bicara setelah dikonfirmasi oleh awak media. Dalam respon singkatnya, orang nomor dua di Bangkep tersebut menyatakan bahwa pihaknya telah mengupayakan perbaikan jalan tersebut pada tahun anggaran ini. “Selamat pagi, untuk jalan Bilabanggai sudah diusahakan kerja tahun ini,” ungkap Wakil Bupati singkat.
Namun, jawaban normatif dari Wakil Bupati tersebut dinilai sangat terlambat oleh publik. Janji “sudah diusahakan kerja tahun ini” dianggap sebagai angin lalu yang tidak sebanding dengan rasa sakit dan jahitan yang harus diterima oleh korban di lapangan. Pertanyaannya, mengapa harus menunggu darah tertumpah baru menyatakan ada upaya perbaikan?
Sangat ironis ketika sebuah akses menuju rumah sakit, yang seharusnya menjadi jalur paling aman bagi keselamatan pasien darurat, justru menjadi ancaman mematikan. Pemda Bangkep dinilai gagal total dalam menentukan prioritas pembangunan yang menyentuh aspek keselamatan nyawa manusia secara mendesak.
Publik kini mempertanyakan di mana keberadaan para pemangku kebijakan saat rakyatnya merintih kesakitan di jalanan yang rusak. Apakah anggaran daerah hanya habis untuk kegiatan seremonial, sementara infrastruktur dasar yang vital bagi pelayanan kesehatan dibiarkan hancur lelap dimakan waktu tanpa solusi konkret?
Sikap diam Pemda Bangkep selama ini dalam menanggapi keluhan nakes dianggap sebagai bentuk ketidaksiapan birokrasi dalam merespon keadaan darurat. Kegagalan memperbaiki jalan ini bukan lagi sekedar masalah teknis anggaran, melainkan sudah masuk dalam kategori pembiaran terhadap potensi hilangnya nyawa warga negara.
Secara jurnalistik, peristiwa ini adalah bukti valid bahwa kritik tajam yang dilayangkan sebelumnya bukanlah isapan jempol belaka. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa setiap detik penundaan perbaikan jalan adalah pertaruhan nyawa yang sangat mahal harganya bagi masyarakat Buko Selatan dan sekitarnya.
Para tenaga kesehatan yang seharusnya fokus memberikan pelayanan medis, kini justru dihantui ketakutan saat berangkat kerja. Jika nakesnya saja tidak terjamin keselamatannya di jalan, bagaimana mungkin masyarakat bisa berharap mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal saat kondisi darurat yang membutuhkan kecepatan waktu?
Kecelakaan yang menimpa Bidan Stevi harus menjadi momentum terakhir bagi Pemda Bangkep untuk segera bertindak secara nyata, bukan sekedar janji dalam pesan singkat. Tidak ada lagi ruang untuk alasan administratif.rakyat butuh aspal yang mulus sekarang, bukan sekedar kata-kata prihatin yang tidak mengubah kondisi infrastruktur yang sudah hancur.
Kini, publik menunggu realisasi nyata dari pernyataan Wakil Bupati tersebut. Masyarakat mendesak agar alat berat segera diturunkan ke lokasi. Jangan sampai jatuh korban berikutnya hanya untuk menyadarkan pemerintah bahwa akses RS Bilabanggai adalah urat nadi kehidupan yang tidak boleh lagi diabaikan.
Jein






