KODI, SUMBA BARAT DAYA –BTN 27/05/2026- Atmosfer di Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), mendadak riuh. Spontanitas warga memicu gelaran pacuan kuda ekshibisi yang mempertemukan dua kuda legendaris, si “Kuda Merah” dan si “Kuda Putih”. Laga sarat gengsi ini dijadwalkan berlangsung di Lapangan Pasola Bondo Kawango, Desa Pera Batang, pada Rabu (27/5/2026) pagi.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Berdasarkan pantauan langsung media di lapangan pada Selasa (26/5/2026), demam pacuan kuda ini telah menjalar ke berbagai sudut wilayah. Mulai dari pelataran rumah warga hingga pinggiran jalan protokol, masyarakat tampak berkumpul dan berkerumun. Topik obrolan mereka seragam. menganalisis kekuatan kedua kuda yang akan bertarung tepat pukul 09.00 WITA.

​Perdebatan hangat salah satunya terpantau di Pasar Senggol Bondo Kodi. Kelompok pendukung Kuda Merah meyakini jagoan mereka memiliki peluang menang yang jauh lebih besar. Di sisi lain, loyalis Kuda Putih tidak tinggal diam dan menegaskan bahwa ketahanan fisik kuda mereka sama sekali tidak boleh diremehkan dalam lintasan esok hari.

​Dinamika di lapangan semakin menarik ketika tensi adu gengsi ini mulai melibatkan para pengusaha lokal. Demi harga diri dan pembuktian performa kuda pilihan, beredar kabar adanya komitmen taruhan spontan bernilai ratusan juta rupiah yang disiapkan oleh sejumlah pihak sebagai bentuk dukungan total terhadap masing-masing ksatria lintasan.

​Fenomena ini sejatinya merefleksikan kerinduan mendalam masyarakat Kodi akan hadirnya kompetisi yang resmi. Warga menilai, tingginya perputaran roda ekonomi spontan dan massa yang berkumpul menjadi bukti otentik bahwa pacuan kuda memiliki potensi besar jika dilegalkan dan dikelola secara profesional oleh Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya.

​Melalui momentum ini, masyarakat mendorong Pemkab SBD, baik jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Bupati maupun legislatif melalui DPRD, untuk segera duduk bersama. Regulasi yang jelas berupa Peraturan Daerah (Perda) terkait pacuan kuda dinilai mendesak untuk dibahas demi memberikan kepastian hukum dan keamanan penyelenggaraan.

​Selain sebagai wadah penyaluran hobi, masyarakat meyakini pacuan kuda berpotensi menjadi salah satu magnet destinasi wisata unggulan di NTT. Jika dikemas dalam kalender event tahunan yang tertata, ajang ini dipastikan mampu menarik kunjungan wisatawan domestik hingga mancanegara, yang bermuara pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

​Lebih dari sekedar hiburan dan olahraga, langkah standardisasi pacuan kuda oleh pemerintah daerah juga dinilai strategis untuk menjaga kelestarian Kuda Sumba (Kuda Sandelwood). Tanpa adanya wadah kompetisi yang rutin, masyarakat khawatir populasi dan garis keturunan murni Kuda Sumba yang tangguh perlahan akan menyusut bahkan punah digerus zaman.

​Secara historis, kedekatan emosional masyarakat Sumba dengan mamalia ini memang telah mengakar sejak berabad-abad lalu. Kuda Sumba merupakan alat transportasi utama pembawa barang dan manusia pada zaman dahulu, jauh sebelum kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat merambah daratan Pulau Sumba.

​Pada masa lampau, ketika infrastruktur jalan belum memadai, warga terbiasa mengandalkan kekuatan fisik Kuda Sumba untuk mengangkut hasil bumi dan bahan komoditas utama menembus medan berbukit dari perkebunan menuju pasar-pasar tradisional di pedalaman.

​Hingga era modern saat ini, eksistensi Kuda Sumba tetap tidak tergantikan dalam tatanan adat istiadat setempat. Kuda bernilai tinggi ini selalu menjadi bagian dari mahar atau syarat mutlak pembicaraan adat (Belis) dalam tradisi pernikahan sakral masyarakat Sumba, yang melambangkan kehormatan dan strata sosial keluarga.

​Melalui laga spontan antara Kuda Merah dan Kuda Putih di Lapangan Pasola Bondo Kawango ini, masyarakat Kodi seolah sedang mengirimkan pesan kuat kepada pemerintah,budaya ini hidup, bernilai ekonomi tinggi, dan kini sedang menanti payung hukum yang bijak untuk berkembang lebih besar.

(LIPUTAN TIBO BTN KAPERWIL NTT)