Scroll Untuk Lanjut Membaca

Waingapu, BTN — 19 Agustus 2026 — Gemuruh sorak penonton Pacuan Kuda Humba Cup IV di Lapangan Pacuan Kuda Rihi Eti, Prailiu, Waingapu, Selasa (18/8/2026), tidak hanya menjadi panggung olahraga dan budaya Sumba. Di tengah semarak perlombaan, muncul gerakan kemanusiaan untuk membantu saudara-saudara di Flores yang terdampak gempa bumi pada 15 Agustus 2026.

Wakil Bupati Sumba Timur Yonathan Hani, S.Kom., M.Ap., bersama panitia Pacuan Kuda Humba Cup IV, menyediakan kotak amal sebagai ruang bagi masyarakat untuk menunjukkan kepedulian dan solidaritas.

Pesannya sederhana, tetapi kuat: di tengah kegembiraan, jangan lupa saudara yang sedang berduka dan membutuhkan uluran tangan.

Kotak amal tersebut dibuka bagi seluruh elemen masyarakat yang hadir dalam kegiatan pacuan kuda. Tidak ada batasan nominal. Sedikit maupun banyak, setiap rupiah diharapkan menjadi bagian dari bantuan bagi masyarakat Flores yang sedang menghadapi dampak bencana.

Wakil Bupati mengajak masyarakat Sumba Timur untuk tidak hanya menyaksikan pertandingan, tetapi juga menjadikan momentum Humba Cup IV sebagai ruang memperkuat persaudaraan antarsesama masyarakat Nusa Tenggara Timur.

“Kalau kita punya sedikit lebih, mari sisihkan untuk saudara-saudara kita di Flores. Bantuan kecil dari kita mungkin sangat berarti bagi mereka yang sedang menghadapi musibah,” menjadi semangat solidaritas yang digaungkan dalam aksi tersebut.

Gerakan solidaritas ini memperlihatkan bahwa olahraga dan budaya dapat menjadi jembatan kemanusiaan. Pacuan kuda yang selama ini identik dengan tradisi dan hiburan masyarakat Sumba Timur, kali ini membawa pesan yang jauh lebih besar: solidaritas tidak mengenal batas pulau maupun kabupaten.

Panitia berharap masyarakat, pelaku usaha, peserta pacuan kuda, pemilik kuda, joki, komunitas, organisasi kemasyarakatan hingga seluruh penonton dapat ikut berpartisipasi.

Tidak perlu menunggu menjadi orang kaya untuk membantu. Sisipkan sedikit rezeki ke dalam kotak amal. Sebab dalam situasi bencana, kepedulian sekecil apa pun dapat menjadi tanda bahwa saudara-saudara kita di Flores tidak berjalan sendirian.

Aksi solidaritas tersebut sekaligus memperkuat semangat persaudaraan masyarakat NTT yang memiliki ikatan sosial dan budaya yang kuat.

Di Lapangan Rihi Eti, derap kuda memang terus berpacu. Namun di luar lintasan, ada pesan yang jauh lebih penting: ketika saudara tertimpa bencana, yang dibutuhkan bukan sekedar rasa iba, tetapi tindakan nyata.

Sumba Timur untuk Flores. Dari Humba, untuk saudara.

Piter Kabiro, Sumba Timur