​SELUMA, BTN – Dunia pendidikan di wilayah Semidang Alas, Kabupaten Seluma, Bengkulu, tengah diguncang isu miring. AN, seorang siswa kelas 3 Sekolah Dasar, dilaporkan mengalami trauma hebat hingga menolak menginjakkan kaki di sekolah selama dua bulan terakhir. Kasus ini memicu tanya besar: apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding kelas? 12/04/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Ditemui wartawan pada Kamis (10/04/2026), AMA, ibu kandung AN, tampak terpukul melihat perubahan drastis perilaku putranya. AN yang semula biasa saja, kini berubah menjadi pribadi yang tertutup dan menyimpan ketakutan mendalam terhadap lingkungan sekolah.

Anak saya tidak mau lagi sekolah karena trauma. Sudah dua bulan dia mogok,” ungkap AMA dengan nada getir.

​AMA mengakui bahwa AN memang memiliki daya tangkap yang lebih lambat dibanding teman sebayanya. Namun, ia mencium adanya kejanggalan setelah AN pulang sekolah dalam keadaan menangis dan bersikeras tidak ingin kembali. Bahkan, tawaran untuk pindah sekolah pun ditolak mentah-mentah oleh bocah tersebut, sebuah indikasi adanya luka psikologis yang mendalam.

​Di sisi lain, pihak sekolah menyajikan narasi yang bertolak belakang. Kepala Sekolah membantah keras adanya intimidasi atau kekerasan terhadap AN. Menurutnya, justru AN-lah yang kerap menunjukkan perilaku agresif terhadap rekan-rekannya.

Klaim Agresi: Pihak sekolah menyebut AN sering memukul teman sekelasnya. “Hampir satu kelas pernah kena,” klaim Kepala Sekolah.

Klarifikasi “Ruang Isolasi”: Menanggapi isu miring soal ruang isolasi, sekolah berdalih bahwa ruangan tersebut adalah tempat pembelajaran khusus.

Fungsi Ruangan: Ruang tersebut digunakan untuk membina lima siswa dengan kebutuhan belajar berbeda agar bisa mengejar kemampuan baca-tulis.

​Meski pihak sekolah mengklaim ruang tersebut bersifat membina, fakta bahwa seorang siswa mengalami trauma hingga dua bulan tidak bersekolah menunjukkan adanya celah besar dalam sistem penanganan siswa di sekolah tersebut.

Validitas Metode: Jika ruang khusus ditujukan untuk membina, mengapa justru muncul kesan traumatis pada siswa?​

Transparansi Sekolah: Sejauh mana sekolah mengomunikasikan metode “pembinaan khusus” ini kepada orang tua sebelum trauma terjadi?​

Pengawasan: Mengapa laporan mengenai perilaku agresif AN tidak diselesaikan melalui mediasi yang tuntas hingga memicu aksi mogok sekolah yang berkepanjangan?

​Kasus AN bukan sekedar urusan bolos sekolah, melainkan alarm bagi Dinas Pendidikan Seluma untuk mengevaluasi bagaimana sekolah-sekolah di daerah menangani anak dengan kebutuhan belajar khusus (Slow Learner).

​Hingga berita ini diturunkan, AN masih mengurung diri di rumah. Tanpa adanya intervensi psikologis dan mediasi yang jujur antara sekolah dan orang tua, masa depan pendidikan bocah kelas 3 SD ini berada di ujung tanduk.