JAKARTA –BTN 31/01/2026- Menanggapi pernyataan dramatis Bapak Listyo Sigit Prabowo yang menyatakan lebih memilih menjadi petani ketimbang melihat institusi Polri berada di bawah kementerian, kami yang tergabung dalam Aliansi Warganet Indonesia menyatakan Mendukung Penuh dan Mengawal Sampai Jadi rencana tersebut.
Kami menilai, aspirasi untuk pindah profesi ini bukanlah sekedar gertakan, melainkan sebuah “panggilan alam” yang sangat sinkron dengan rekam jejak beliau selama ini. Berikut adalah poin-poin pertimbangan strategis kami.
Selama memimpin, Bapak telah menunjukkan bakat luar biasa dalam hal bercocok tanam. Bapak sukses menanamkan rasa sabar yang tak terbatas di hati rakyat Indonesia saat menyaksikan penanganan kasus-kasus hukum yang penuh plot twist dan drama. Kemampuan Bapak menanamkan diksi “Presisi” di tengah realita yang sering kali “Meleset” adalah modal dasar petani unggul yang mampu mengubah lahan tandus keadilan menjadi ladang retorika yang subur.
Di dunia pertanian, keberhasilan panen bergantung pada pembasmian hama. Kami yakin Bapak akan sangat mahir dalam hal ini. Sebagaimana selama ini Bapak terlihat sangat selektif dalam membasmi “hama” pelanggaran,sangat cepat pada yang vokal di media sosial, namun sangat “hati-hati dan penuh pertimbangan” pada hama yang memiliki koneksi kuat. Bakat memilah mana yang harus disemprot pestisida dan mana yang harus dipupuk hingga tumbuh besar adalah kualifikasi langka.
Keputusan Bapak untuk lebih memilih bertani daripada tunduk pada pengawasan kementerian menunjukkan prinsip yang teguh.Lebih baik memegang cangkul daripada memegang tanggung jawab yang diawasi secara ketat. Ini adalah bukti bahwa Bapak adalah sosok yang sangat mandiri dan alergi terhadap konsep checks and balances. Sifat ini sangat cocok untuk petani mandiri yang hanya bertanggung jawab pada cuaca, bukan pada konstitusi atau tuntutan reformasi birokrasi.
Kami mendesak agar rencana ini segera direalisasikan. Jangan biarkan bakat bertani Bapak layu di tengah hiruk-pikuk penegakan hukum yang sering kali membingungkan. Indonesia mungkin akan kehilangan seorang Jenderal, tetapi Indonesia akan memenangkan seorang petani yang paling pandai menjaga citra di atas lahan yang gembur.
“Selamat Mencangkul, Pak! Semoga Hasil Panennya Lebih Nyata daripada Hasil Transformasi Institusinya.”
Redaksi






