Tunggaling, Bangkep, BTN — Di tengah keterbatasan dan minimnya perhatian terhadap kondisi infrastruktur, masyarakat Desa Tunggaling kembali menunjukkan bahwa semangat kebersamaan tidak pernah luntur oleh keadaan. Dipimpin langsung oleh Kepala Desa Tunggaling, Jois Malingkas, S.Pd, warga turun ke jalan melakukan gotong royong memperbaiki ruas jalan berlubang pada sejumlah titik yang dianggap paling berbahaya di jalur wilayah desa Tombos ya itu dusun Bebek sampai desa Tunggaling. 5/06/2026
Dengan peralatan sederhana, tenaga swadaya, dan tekad yang kuat, masyarakat bergelut dengan debu, batu, dan terik matahari demi memastikan jalan yang mereka lalui setiap hari tetap bisa digunakan dengan aman.
Mereka tidak menunggu datangnya bantuan. Mereka tidak sibuk menyalahkan. Mereka memilih bergerak.
Pemandangan itu menjadi potret nyata tentang bagaimana rakyat kecil sering kali harus menjadi garda terdepan dalam menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya merupakan kebutuhan dasar yang semestinya mendapat perhatian serius pemerintah.
Namun di balik semangat gotong royong tersebut, tersimpan sebuah pesan yang begitu dalam
Bahwa:
“jalan ini bukanlah jalan yang tersembunyi dari pandangan. Jalur Bebek–Tunggaling merupakan akses yang setiap hari dilalui masyarakat, termasuk salah satu oknum anggota DPRD Banggai Kepulauan”.
Kerusakan jalan ini bukanlah persoalan yang tidak diketahui. Lubang-lubang itu terlihat jelas, dirasakan langsung oleh pengguna jalan, dan menjadi ancaman nyata bagi keselamatan warga.
Karena itu, apa yang dilakukan masyarakat hari ini bukanlah bentuk protes, melainkan bentuk kepedulian. Bukan pula kritik yang pedas, melainkan pengingat yang tulus bahwa masyarakat telah melakukan bagian mereka. Kini mereka berharap perhatian dan tindakan nyata dari para pemangku kebijakan.
Gotong royong yang dipimpin Kepala Desa Jois Malingkas bukan sekedar menimbun lubang jalan. Mereka sedang menjaga keselamatan anak-anak yang berangkat sekolah, para petani yang mengangkut hasil kebun, para ibu yang bepergian ke pasar, serta warga yang setiap hari bergantung pada akses jalan tersebut.
Di saat masyarakat bergandengan tangan memperbaiki apa yang mampu mereka perbaiki, harapan besar pun mengalir kepada Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan agar dapat melihat dan merasakan denyut perjuangan yang sama. Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya tentang angka dan laporan, melainkan tentang hadirnya negara di tengah kebutuhan rakyatnya.
Hari ini masyarakat Tunggaling telah memberikan teladan. Mereka membuktikan bahwa gotong royong masih hidup. Mereka tidak menunggu perubahan datang, tetapi mulai menciptakannya sendiri.
Dan semoga, suara cangkul yang menghantam batu serta langkah kaki warga yang bekerja bersama di jalan rusak itu dapat menjadi panggilan hati bagi para pengambil kebijakan untuk segera menghadirkan solusi yang lebih permanen dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat.






