Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Sumba Barat Daya, BTN – Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran kian mencekik leher masyarakat di wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur (NTT). Berdasarkan pantauan terbaru, harga BBM jenis bensin di tingkat pengecer kini telah menembus angka fantastis, yakni Rp30.000 per botol. Kondisi ini memicu keluhan berat dari warga yang kian kesulitan menahan beban ekonomi. 23/06/2026

​Pantauan langsung Tim Media BTN di sepanjang jalur Ibu Kota Kabupaten Sumba Barat Daya pada Selasa (23/6/2026) pukul 11.15 WITA, menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Salah satu titik lonjakan harga terdeteksi di wilayah Desa Rada Mata, Kecamatan Loura. Di kawasan ini, bensin eceran kemasan botol air mineral besar ukuran 1.500 ml (1,5 liter) resmi dijual seharga Rp30.000.

​Secara spesifik, titik penjualan dengan harga melambung tersebut berada pada koordinat 9.424403°S, 119.234430°E. Saat dikonfirmasi oleh awak media di lokasi, pedagang eceran setempat secara blak-blakan mengakui tarif baru tersebut. “Iya benar, harganya sekarang Rp30.000 per botol,” ujar salah seorang penjual eceran dengan nada pasrah.

​Meroketnya harga bensin eceran ini menyisakan dilema besar bagi para pengguna kendaraan bermotor. Mau tidak mau, mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi bisa membeli bahan bakar tersebut. Hal ini dilakukan demi memastikan mereka tetap bisa menempuh perjalanan menuju tempat kerja atau kantor masing-masing.

​Ketika dimintai tanggapan mengenai kecukupan bahan bakar senilai Rp30.000 untuk mobilitas harian, seorang pengendara mengaku sangat keberatan. Ia mengungkapkan bahwa pembelian tersebut dilakukan semata-mata karena keadaan yang mendesak. “Dalam keadaan terpaksa, mau tidak mau kami harus tetap beli,” ungkapnya kepada media.

​Narasumber yang meminta identitasnya dirahasiakan ini ternyata merupakan seorang pegawai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu. Ia mengeluhkan, jika harga bensin terus bertahan di angka tinggi, hal itu bisa memicu penurunan motivasi kerja para pegawai. “Kalau begini terus, kami yang setiap hari bertugas bisa malas masuk kantor,” keluhnya.

​Faktor utama yang mendasari kecemasan tersebut adalah ketidakseimbangan antara pendapatan dan biaya hidup. Dengan penghasilan bulanan yang hanya berkisar di angka Rp1.000.000, biaya transportasi harian kini dirasa sudah tidak masuk akal. Upah tersebut dinilai sama sekali tidak cukup untuk membiayai perjalanan pulang-pergi dinas ke tempat tugas.

​”Kami ini hanya pegawai biasa dengan upah Rp1 juta per bulan. Jelas tidak akan mencukupi kebutuhan perjalanan dinas saat ke kantor tempat tugas,” keluh sumber tersebut dengan raut wajah penuh kekecewaan.

​Ia menambahkan, kalkulasi pengeluaran saat ini sudah sangat tidak sehat bagi dapur keluarga. Penghasilan satu juta rupiah sudah ludes hanya untuk urusan transportasi, bahkan sebelum menyentuh pemenuhan kebutuhan dasar rumah tangga lainnya. Situasi kian diperparah dengan harga komoditas pokok seperti beras yang ikut melonjak tinggi di pasaran.

​Secara emosional, narasumber tersebut meluapkan kekesalannya karena dampak ekonomi ini mulai mengancam keharmonisan keluarga. Pengeluaran yang habis di jalan memicu konflik domestik yang tidak diinginkan. “Ini bisa mengundang rumah tangga berantakan, akibat gaji habis di perjalanan hanya untuk isi bensin,” tuturnya dengan nada kesal.

​Melalui momentum ini, masyarakat kecil menaruh harapan besar kepada pihak berwenang agar tidak menutup mata. Mereka sangat berharap pemerintah daerah maupun pusat segera turun tangan memberikan perhatian dan solusi konkret atas kondisi yang kian mencekik ini. Perlu ada intervensi pasar guna menstabilkan kembali harga BBM di tingkat eceran.

​Sebagai penutup, ia membandingkan ketimpangan sosial yang dirasakan antara masyarakat kecil dan para pejabat. Di saat harga komoditi hasil tani milik masyarakat terus merosot dan harga BBM melambung, kehidupan pejabat dinilai tetap nyaman karena ditopang fasilitas negara. “Enak pejabat gaji dan tunjangan besar, tapi kami masyarakat kecil semakin melarat dan jadi penanggung derita,” tandasnya.

 

(Liputan: Tibo, BTN Kaparwil NTT)