​SUMBA BARAT DAYA, BTN – Aroma dugaan penyalahgunaan wewenang dan nepotisme menyengat di Desa Bila Cenge, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), NTT. Kepala Desa Bila Cenge, Petrus Pati Njari, kini menjadi sorotan tajam setelah dituding lebih mengutamakan kesejahteraan keluarga pribadinya di atas penderitaan masyarakat yang masih terhimpit kemiskinan. 02/02/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Secara konstitusi, sumpah jabatan adalah janji suci seorang pejabat publik untuk setia pada negara dan mendahului kepentingan rakyat. Namun, bagi masyarakat Bila Cenge, sumpah tersebut seolah hanya menjadi “hiasan bibir” saat pelantikan.

​”Sumpah jabatan itu komitmen untuk melayani rakyat dengan etiket baik, bukan alat untuk memperkaya dinasti keluarga,” tulis pantauan Media Brantas Tipikor.

​Salah satu poin krusial yang memicu kemarahan warga adalah pengalokasian Program Sumur Bor yang bersumber dari Dana Desa. Bukannya ditempatkan di titik strategis untuk kepentingan umum, fasilitas air bersih tersebut justru diduga dialihkan ke lokasi rumah anak sulung sang Kepala Desa.

​”Dana Desa seharusnya untuk rakyat yang kesulitan air, tapi kenyataannya justru dibangun di rumah anaknya. Ini jelas penyalahgunaan aset negara untuk kepentingan pribadi,” ungkap salah seorang warga Dusun Dua dengan nada geram.

​Ketimpangan sosial di Desa Bila Cenge kian mencolok sejak Petrus Pati Njari menjabat. Warga membeberkan fakta lapangan yang mengejutkan mengenai pertumbuhan kekayaan sang Kades:

  1. ​Kades diduga telah membangun tiga unit rumah permanen sejak menjabat.
  2. ​Sang Kades membangun rumah lantai dua untuk anak pertamanya yang saat ini masih menempuh pendidikan keperawatan.
  3. ​Di saat keluarga Kades menikmati fasilitas mewah dan air bersih dari dana negara, mayoritas warga Desa Bila Cenge dilaporkan masih bertahan hidup di rumah-rumah gubuk yang tidak layak.

​”Kades punya rumah lantai dua, anak sekolah perawat sudah punya fasilitas mewah, sementara kami rakyat kecil hanya dapat ‘nama’ saja. Dana Desa hanya berputar di lingkaran keluarga Kades,” beber warga setempat.

​Kesabaran masyarakat tampaknya telah mencapai batasnya. Warga secara terbuka meminta Bupati Sumba Barat Daya untuk segera turun tangan dan mengeluarkan rekomendasi pemeriksaan terhadap Petrus Pati Njari.

​Masyarakat menuntut adanya audit transparan terhadap pengelolaan Dana Desa di Bila Cenge. Jika ditemukan penyelewengan, warga menegaskan bahwa proses hukum adalah harga mati. “Jangan biarkan pejabat menari di atas penderitaan rakyat. Jika ada temuan, wajib hukumnya diproses secara pidana!” tegas warga.

​Hingga berita ini diturunkan, Kepala Desa Petrus Pati Njari seolah “menelan bumi”. Saat tim media mendatangi kediamannya untuk konfirmasi, pintu rumah dalam keadaan terkunci rapat. Upaya komunikasi melalui pesan singkat maupun panggilan WhatsApp pun tidak membuahkan hasil karena nomor yang bersangkutan tidak aktif.

​Upaya konfirmasi kepada pihak Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya juga masih terus dilakukan guna menindaklanjuti keresahan warga yang kian memanas ini.

​Tim Redaksi – Media Brantas Tipikor