Bangkep-PELINGLALOMO –BTN 30/11/2025-Sebuah insiden memalukan yang melibatkan Pejabat (Pj.) Kepala Desa Pelinglalomo, Ibu Jaharia Palakitanan, mencuat ke publik. Pj. Kades tersebut diduga menunjukkan ketidakpahaman fundamental mengenai fungsi dan konteks gambar ilustrasi yang digunakan dalam narasi berita, menyebabkan kepanikan dan reaksi yang dinilai tidak profesional.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Kehebohan ini bermula dari sebuah unggahan berita di percakapan WhatsApp yang menampilkan narasi tentang “Masyarakat Desa Pelinglalomo Kec Buko Kabupaten Bangkep Desak Pemberhentian Ketua BPD” dengan melampirkan sebuah gambar yang jelas-jelas merupakan gambar ilustrasi aksi demonstrasi (demo).

​Kepala Desa diduga Panik, Anggap Gambar Ilustrasi Sebagai “Foto Rekayasa”

​Alih-alih memahami bahwa gambar tersebut adalah ilustrasi visual pelengkap untuk memperkuat narasi berita, Pj. Kades Pelinglalomo, Ibu Jaharia Palakitanan, justru merespons dengan panik dan klarifikasi yang kontroversial.

​Saat ditanya oleh salah satu anggota grup, “Kapan ini demo di pelinglamo Pelinglalomo?”, Ibu Jaharia Palakitanan dengan sigap menjawab:

​“Tidak ada demo itu foto direkayasa, sy sdh teruskan SM pa.kabid dan pa.kqbid nanti dia sampaikan sama pa.kadis. Maksudx foto diedit.”

​Pernyataan Pj. Kades ini sontak menjadi sorotan tajam. Dugaan “gagal paham” mencuat lantaran Pj. Kades dengan lugas menuding gambar tersebut sebagai “foto direkayasa” atau “diedit”, sebuah terminologi yang keliru dan tidak relevan untuk merujuk pada gambar ilustrasi generik yang lazim digunakan media.

​Kritik Pedas Warga.”Seorang Kepala Desa yang Gagal Paham”

​Kesalahan fatal dalam membaca konteks visual ini dinilai sangat disayangkan dan menunjukkan rendahnya literasi media seorang pemimpin desa.

​”Sungguh memalukan. Seorang kepala desa yang gagal paham membedakan mana gambar dokumentasi asli, mana gambar ilustrasi. Ini menunjukkan beliau perlu banyak belajar lagi terkait arti dari gambar yang dipajang di dalam narasi berita,” ujar salah satu warga desa Pelinglalomo yang tidak ingin disebutkan namanya.

​Warga menekankan, kehebohan dan klarifikasi yang dilakukan Pj. Kades menjadi wajar kecuali jika warga Desa Pelinglalomo yang sebenarnya memang ada di dalam gambar ilustrasi tersebut—hal yang hampir mustahil terjadi mengingat gambar ilustrasi umumnya bersifat umum (generik).

​Tindakan Pj. Kades yang bahkan sampai “meneruskan” informasi ini kepada jajaran di atasnya (Kabid dan Kadis) justru memperparah keadaan, menunjukkan betapa seriusnya ia menyikapi gambar ilustrasi generik sebagai ancaman atau informasi palsu yang harus segera diatasi. Ini merupakan pemborosan energi birokrasi yang tidak perlu.

​Tuntutan Belajar Literasi Media

​Insiden ini bukan sekadar kekeliruan kecil, melainkan cerminan kritis atas kompetensi literasi digital dan media para pejabat publik di tingkat desa. Pj. Kepala Desa Pelinglalomo diharapkan segera mengambil langkah proaktif untuk meningkatkan pemahaman mengenai konteks dan fungsi gambar dalam pemberitaan.

​Kepala desa adalah ujung tombak informasi di tingkat masyarakat. Jika pemimpinnya sendiri gagal paham membedakan antara fakta dokumentasi dan alat visual ilustrasi, maka dikhawatirkan hal ini akan berdampak pada kualitas pengambilan keputusan dan penyebaran informasi yang akurat kepada warganya.

Sampai berita ini tayang kepala desa pj desa Pelinglalomo tidak menjawab pertanyaan dari pimpinan redaksi,melalui Whatsaap.

Jein