Scroll Untuk Lanjut Membaca

​BANGGAI KEPULAUAN, BTN – Narasi kemajuan pembangunan yang kerap didengungkan di atas panggung formal seolah terhenti tepat di pintu masuk Kecamatan Peling Tengah. Bagi warga Desa Tombos, khususnya di Dusun Bebek-Labibi hingga jalur Patukuki-Tolulos, istilah “pemerataan pembangunan” hanyalah dongeng pengantar tidur yang tak kunjung menjadi nyata. 24/03/2026

​Apa yang tampak dalam potret-potret jalan rusak yang beredar di media sosial bukanlah hasil manipulasi rasa tidak puas, apalagi sekedar “rengekan manja” untuk mencari perhatian. Itu adalah kenyataan pahit, sebuah “monumen pengabaian” yang harus ditelan masyarakat setiap hari selama bertahun-tahun.

​Kondisi jalan di wilayah ini sudah jauh dari kata layak. Di musim kemarau, warga dipaksa “memakan” debu jalanan yang menyesakkan napas. Namun, keadaan berubah menjadi horor saat hujan tiba. jalanan berubah wujud menjadi kubangan lumpur yang siap menjebak kendaraan apa pun.

​Tuntutan warga agar jalur PATUKUKI – TOLULOS dan BEBEK – LABIBI segera diperbaiki bukan tanpa alasan kuat. Infrastruktur jalan adalah fondasi dasar bagi akses pendidikan anak sekolah, layanan kesehatan darurat, dan urat nadi ekonomi desa. Jika jalan rusak, biaya angkut hasil tani melambung, dan pasien gawat darurat harus bertaruh nyawa di atas goncangan lubang jalan yang menganga.

​”Jangan sampai nanti sudah ada Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh pengguna jalan, baru kemudian muncul ucapan turut berduka cita dari para pemangku kebijakan,” cetus salah satu warga dengan nada getir.

​Sentilan ini terasa pedas namun sangat beralasan. Fenomena “pemadam kebakaran”—di mana pemerintah baru sibuk bekerja setelah jatuh korban jiwa,adalah pola lama yang seharusnya sudah ditinggalkan. Integritas para legislator (Aleg) dan pejabat terkait kini dipertanyakan. Di mana mereka saat rakyatnya berjibaku dengan lumpur demi menyambung hidup?

​Pemerintah daerah harus sadar bahwa denyut nadi kehidupan sebuah daerah justru bermula dari pelosok desa, bukan hanya di pusat-pusat kota yang bersolek indah. Membiarkan jalan desa hancur lebur sementara anggaran daerah mengalir ke proyek-proyek seremonial adalah bentuk ketidakadilan yang nyata.

​Kita tidak sedang memanipulasi keadaan agar terlihat buruk,melainkan keadaan itulah yang memang sedang tidak baik-baik saja. Peling Tengah butuh mata yang jeli untuk melihat penderitaan, dan tangan yang bergerak cepat untuk memperbaiki, bukan sekedar janji-janji yang menguap di tengah jalan yang berlubang.

​Masyarakat kini menanti aksi nyata. Berhenti bersembunyi di balik alasan “keterbatasan anggaran” jika prioritas pembangunan masih terlihat tebang pilih. Rakyat tidak butuh simpati pasca-tragedi. rakyat butuh jalan yang layak untuk masa depan mereka.