BANGGAI KEPULAUAN –BTN 24/02/2026 Kesabaran masyarakat terhadap rusaknya infrastruktur jalan di Kabupaten Banggai Kepulauan nampaknya telah mencapai titik nadir. Sebuah aksi protes teatrikal nan satir dilakukan oleh pemuda setempat di jalur Trans Patukuki – Tolulos. Bukan dengan spanduk, melainkan dengan menanam pohon di tengah lubang jalan yang menganga, mengubah fungsi jalan raya menjadi “lahan perkebunan” dadakan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Aksi yang viral di media sosial ini merupakan bentuk murni dari kekecewaan rakyat terhadap kinerja Pemerintah Daerah dan para Anggota Legislatif yang dianggap menutup mata. Meskipun kerusakan jalan ini sudah berlangsung lama dan mengancam keselamatan pengendara, hingga saat ini belum ada tanda-tanda perbaikan permanen.

​”Ini adalah kreasi kami untuk menyuarakan isi hati. Wakil rakyat hanya tahu jalan ini rusak, tapi mereka memilih diam seribu bahasa. Jika mereka tidak bisa membangun jalan, biar kami yang menanam pohon di sini,” ujar narasi dalam unggahan yang memicu simpati publik tersebut.

​Aksi “menanam pohon” ini bukan sekedar lelucon, melainkan sebuah dakwaan sosial. Secara kritis, hal ini mempertanyakan transparansi pengelolaan anggaran infrastruktur di Kabupaten Banggai Kepulauan.

Diamnya otoritas terkait menunjukkan adanya degradasi empati terhadap mobilitas ekonomi warga.

Jalan yang dibiarkan rusak bukan hanya menghambat logistik, tetapi merupakan “jebakan maut” bagi masyarakat yang melintas setiap hari.

Para wakil rakyat di DPRD dinilai gagal menjalankan fungsi pengawasan dan penganggaran jika jalur vital seperti Patukuki – Tolulos harus diperbaiki dengan cara “ditanami pohon” oleh warga sebagai bentuk protes.

​Masyarakat menuntut agar Dinas PUPR dan Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan segera mengalokasikan anggaran darurat untuk perbaikan jalan ini. Jika aksi ini terus diabaikan, maka “kebun-kebun” baru akan terus tumbuh di sepanjang aspal Banggai Kepulauan sebagai monumen kegagalan pembangunan daerah.

Jein