​MOROWALI UTARA, BTN – Udara bersih di Desa Tontowea kini menjadi barang mewah. Aktivitas pengangkutan material tambang (hauling) oleh korporasi besar di wilayah tersebut telah memicu polusi debu yang mengkhawatirkan. Menanggapi jeritan warga, Pemerintah Kecamatan Petasia Barat langsung bergerak melakukan inspeksi mendadak ke lokasi penambangan pada Rabu (14/01/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Camat Petasia Barat, Sat Yun Man Bert Lauo, SH, yang turun langsung ke lapangan, menegaskan bahwa kondisi di lapangan tidak bisa ditoleransi lagi. Debu pekat yang dihasilkan dari jalur hauling dinilai bukan sekadar gangguan estetika, melainkan ancaman nyata bagi paru-paru masyarakat.

​”Debu yang ditimbulkan ini luar biasa. Kami tidak main-main karena ini menyangkut kesehatan masyarakat, terutama risiko penyakit pernapasan (ISPA). Kami menindaklanjuti laporan ini karena kondisinya sudah semakin mengkhawatirkan,” tegas Sat Yun Man di tengah kepulan debu lokasi tambang.

​Meski lokasi pengerukan berada di area perbukitan sejauh lima kilometer dari pemukiman, partikel debu halus tetap merangsek masuk ke jantung desa. Tercatat ada tujuh raksasa tambang yang beroperasi di jalur tersebut, yakni:​

PT MORINA, PT BEM, PT TMI, PT BUANA, PT TBA, PT KGM, dan PT MPR.

​Ketegasan Camat didampingi oleh Bhabinkamtibmas Brigpol Edi Kurniawan, Sekdes Tontowea Desliati Maroangi, serta personel Satpol PP. Kehadiran tim terpadu ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah kecamatan menuntut tanggung jawab penuh dari para pemegang IUP dan kontraktor.

​Menghadapi tekanan dari pemerintah dan warga, pihak manajemen mulai bereaksi. Pengawas Lapangan PT Sumber Swarna Pratama (SSP), Jois Lawidu, menyatakan telah menginstruksikan seluruh kontraktor untuk memperketat protokol pengendalian debu.

​“Kami sudah mengarahkan seluruh teman-teman kontraktor untuk melaksanakan penyiraman secara maksimal di jalur hauling. Fokus kami adalah memastikan debu tidak lagi bermigrasi ke pemukiman warga,” ujar Jois.

​Pemerintah Kecamatan memastikan akan terus memantau efektivitas penyiraman tersebut. Warga berharap langkah ini bukan sekadar pemadam kebakaran sesaat, melainkan solusi permanen agar aktivitas ekonomi pertambangan tidak mengorbankan ruang hidup dan kesehatan masyarakat lokal.