NDUGA, PAPUA PEGUNUNGAN —BTN 25/10/2026- Kontak tembak kembali pecah di wilayah Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, pada Jumat (23/10/2026). Insiden mematikan yang melibatkan personel Satgas Rajawali VI dengan kelompok yang diduga terafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Front Bersenjata Kodap III Ndugama tersebut mengakibatkan dua orang dari pihak kelompok bersenjata (KKB) meninggal dunia.
Berdasarkan laporan internal yang diterima redaksi, tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dari pihak personel TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Rajawali VI. Situasi keamanan di sekitar lokasi kejadian hingga saat ini masih dalam pantauan ketat aparat.
Berdasarkan kronologi kejadian, peristiwa tersebut bermula sekitar pukul 08.10 WIT. Saat itu, tim patroli udara menggunakan pesawat nirawak (drone) mendeteksi pergerakan sekitar enam orang mencurigakan di kawasan Kampung Noglait. Dari pemantauan udara tersebut, salah satu individu terindikasi membawa senjata api.
Mendapati adanya pergerakan kelompok tersebut, pimpinan Satgas Rajawali VI dengan cepat merespons dengan menerjunkan personel untuk melakukan operasi penyergapan dan penyekatan di sejumlah titik penyusupan yang berpotensi menjadi jalur pelarian.
Kontak tembak tak terhindarkan terjadi sekitar pukul 09.20 WIT. Kelompok sasaran dilaporkan mencoba melarikan diri saat tim darat tiba di lokasi penyergapan, yang kemudian memicu aksi saling tembak di tengah vegetasi lebat kawasan Kenyam.
Usai baku tembak mereda, personel Satgas melakukan penyisiran lanjutan di sekitar area pertempuran mulai pukul 12.15 WIT. Dalam proses penyisiran tersebut, petugas menemukan dua jasad pria yang dipastikan telah meninggal dunia akibat luka tembak.
Selain mengevakuasi korban, aparat gabungan juga melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) awal dan mengamankan sejumlah barang bukti penting. Salah satu temuan yang menyita perhatian adalah uang tunai bernilai fantastis, yakni sebesar Rp88.069.000.
Tak hanya uang tunai, Satgas Rajawali VI juga menyita 18 unit telepon seluler berbagai merek, satu unit radio komunikasi (handy talkie/HT), dua pucuk senapan angin, serta 19 buah parang yang diduga kuat digunakan untuk menunjang operasional kelompok tersebut.
Kelengkapan senjata tradisional turut disita dari lokasi kejadian, meliputi empat buah busur beserta 103 anak panah. Petugas juga mengamankan sejumlah dokumen pribadi, logistik lapangan, dan barang bukti pendukung lainnya yang ditinggalkan di lokasi kejadian.
Di antara barang-barang yang diamankan, petugas menemukan dokumen identitas atas nama tiga orang warga, yaitu Yunius Sirera, Masut Sirera, dan Mulele Giban. Meski demikian, penyidik masih mendalami kaitan langsung dokumen-dokumen tersebut dengan pihak yang terlibat aksi kontak tembak.
Laporan internal Satgas menduga kuat bahwa kelompok yang berhadapan dengan petugas ini beroperasi di bawah kepemimpinan Army Kogoya. Kendati demikian, kepastian identitas kedua korban tewas maupun status hukum kepemilikan uang tunai serta barang bukti lainnya masih menunggu proses pemeriksaan resmi.
Saat ini, koordinasi intensif antara Satgas Rajawali VI dan Polres Nduga terus berlangsung untuk melakukan identifikasi resmi, olah TKP lanjutan, serta pengujian forensic terhadap seluruh barang bukti yang berhasil disita guna memastikan akuntabilitas proses hukum.
Menanggapi dinamika di lapangan, aparat keamanan di Distrik Kenyam kini meningkatkan status kesiapsiagaan dan memperketat patroli wilayah guna mengantisipasi potensi gangguan keamanan susulan. Transparansi proses identifikasi dan penanganan jenazah menjadi fokus utama untuk memberikan kepastian hukum dan menjaga kondusivitas di tengah masyarakat.
Jein






