Scroll Untuk Lanjut Membaca

BANGGAI KEPULAUAN, BTN – Di balik rimbunnya belantara Peling Tengah dan kokohnya tebing-tebing karst Banggai Kepulauan, tersimpan sebuah luka yang menganga dalam bentuk tumpukan kertas kusam. Proposal Pemekaran Desa Barakah (Sampekonan), sebuah dokumen yang membawa harapan ratusan jiwa, kini nasibnya bak hantu dalam birokrasi ada namun tak dianggap, nyata namun tak tersentuh. 10/5/2026

Sejak tahun 2007, kerinduan masyarakat Dusun II Labibi (Sampekonan) Kecamatan Peling Tenag Kabupaten Banggai Kepulauan. untuk menjadi desa definitif yaitu Desa Barakah telah disuarakan. Tahun berganti tahun, kepemimpinan berganti wajah, hingga dokumen kembali diperbaharui pada tahun 2017. Namun, hingga detik ini di tahun 2026, dokumen itu Kembali di suarakan dalam goresan kertas putih dengan setiap kata-perkat keluar dari hati yang penuh harapan kepada pemangku kebijakan di tingkat Kabupaten, Provinsi bahkan sampai ke pusat. Ataukah tumpukan kertas itu hanya berakhir menjadi pajangan meja kembali di kantor-kantor pemerintahan, atau mungkin nantinya akan hilang tertelan debu dalam arsip yang tak lagi dipedulikan.

Bukan Sekedar Kertas, Tapi Harapan yang Layu Bagi masyarakat Dusun II Desa Labibi (Sampekonan) Kecamatan Peling Tengah, proposal di tahun 2017 tersebut bukan sekadar persyaratan administratif di dalamnya melainkan tertuang sejarah besar, mulai dari masa Kerajaan Tomundo Kadupang hingga perjuangan para tokoh masyarakat saat ini.

Mereka bukan ingin memisahkan diri tanpa alasan, melainkan ingin mendekatkan pelayanan publik yang selama ini terasa sangat jauh dari jangkauan.

‎”Kami tidak menuntut janji, namun haus akan bukti,” Kalimat ini kini terasa seperti jeritan sunyi di tengah pengabaian selama belasan tahun.

Perjalanan Sunyi Sejak 2007 Bisa dibayangkan, 19 tahun yang lalu, bibit harapan ini ditanam. Para orang tua yang dulu menandatangani petisi mungkin kini telah tiada, meninggalkan wasiat perjuangan kepada anak cucunya agar Desa Barakah (Sampekonan) bisa berdiri di atas kaki sendiri. Namun, ironisnya, dokumen yang diperjuangkan dengan tetesan keringat dan musyawarah panjang itu seolah tak memiliki nilai di mata pengambil kebijakan.

Kami merasa seperti dianaktirikan di tanah sendiri. Proposal kami hanya berpindah dari satu meja ke meja lain tanpa pernah ada tindak lanjut yang nyata.

Dari 2007 hingga sekarang, apakah suara kami terlalu kecil untuk didengar?” ujar salah satu perwakilan masyarakat dengan nada lirih.

Jeritan Dari Pelosok Peling Tengah ini menunjukkan bahwa Dusun II Desa Labibi (Sampekonan) memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari pertanian kelapa hingga hasil bumi lainnya dan adapula keterapilan yang dimiliki oleh masyarakat seperti pandai besi, pembuatan obat tradisonal, menjahit, perbengkelan, servis elektronik,dan pelatihan komputer yang dapat menunjang kemajuan suatu desa,Serta di lihat dari jumlah penduduk yang sudah sangat layak untuk dimekarkan. Namun, keterbatasan administratif membuat pembangunan di wilayah ini berjalan di tempat.

‎Masyarakat kini bertanya-tanya Ke mana perginya proposal kami sebelumnya? Apakah ia masih terselip di laci pejabat, atau sudah hancur tak berbekas?

Melalui rilisan ini, masyarakat Dusun II Desa Labibi (Sampekonan) hanya meminta satu hal yaitu Keadilan. Jangan biarkan proposal ini terus-menerus menjadi artefak birokrasi. Sudah saatnya Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan melihat dengan hati, bukan hanya dengan kacamata regulasi yang kaku.

Sembilan belas tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah penantian. Jangan tunggu hingga harapan masyarakat benar-benar padam dan berubah menjadi keputusasaan yang mendalam.

‎Tertanda,

‎Suara Hati Masyarakat Sampekonan dusun II desa Labibi Kecamatan Peling Tengah Kabupaten Banggai kepulauan . Yang ingin di mekarkan menjadi Desa Barakah Kecamatan Peling Tengah.