Bualemo Banggai Sulteng, BTN — 19/09/2026-Pelayanan kesehatan tingkat akar rumput kembali menelan pil pahit. Puskesmas Bualemo, Kabupaten Banggai, mendadak menjadi sorotan tajam setelah dugaan kelalaian fatal dalam penanganan medis darurat mencuat ke publik. Fasilitas kesehatan yang seharusnya menjadi garda terdepan penyelamat nyawa manusia justru memperlihatkan kebobrokan manajemen yang sangat mendasar dan tidak dapat ditoleransi.
Tragedi pelayanan ini membentang ketika seorang pasien bernama Hered Makahaube membutuhkan pertolongan medis darurat. Dalam kondisi kritis yang mempertaruhkan nyawa, pasokan oksigen yang amat vital di Puskesmas Bualemo justru dilaporkan habis total. Ketiadaan tabung oksigen siap pakai di ruang perawatan darurat ibarat mencabut asa kesembuhan pasien secara paksa di tengah perjuangan hidup dan mati.
Rasa kecewa dan amarah mendalam diluapkan secara terbuka oleh pihak keluarga pasien, Hermanius Burunaung C.BJ.C.EJ.C.in. Dalam keterangannya, Herman mempertanyakan efektivitas program kesehatan daerah yang selama ini digaungkan pemerintah. “Bagaimana dengan Program Gubernur Berani Sehat, apakah berjalan sesuai janji gubernur ataukah hanya pencitraan belaka?” tegasnya mendobrak klaim keberhasilan pelayanan publik.
Kejadian tragis di Puskesmas Bualemo ini menjadi catatan hitam yang menyisakan kekecewaan mendalam bagi pihak keluarga. Dengan nada keras dan tanpa keraguan, Herman menuding program tersebut gagal menyentuh realitas di lapangan. “Hari ini saya katakan bahwa program Berani Sehat hanya omong kosong belaka, tidak diindahkan oleh Dinas Kesehatan,” cecarnya secara menohok.
Herman menuturkan kronologi pilu yang menimpa pamannya sebelum akhirnya berada dalam kondisi kritis. Menurutnya, korban awalnya tidak menderita sakit parah dan masih mampu beraktivitas secara mandiri. “Itu om saya awalnya tidak sakit separah itu. Nyatanya om saya datang ke rumah sakit masih bawa motor sendiri, dengan maksud mau meminta obat sakit kepala saja,” ungkap Herman membeberkan fakta awal kejadian.
Namun, situasi berbalik drastis saat pasien berada di tangan medis tersebut. Herman menyebut penangan langsung memutuskan untuk memasang infus kepada pamannya.
”om saya langsung tidak sadarkan diri,” tutur Herman. Melihat kondisi pasien yang mendadak tidak sadarkan diri,keluarga kemudian bergegas membawa korban ke Puskesmas Bualemo. Pertolongan medis yang diharapkan justru berujung pilu lantaran ketiadaan fasilitas penyambung nyawa yang paling mendasar.
Tragedi tak berhenti di situ,pasien akhirnya harus dirujuk ke Rumah Sakit Umum (RSU) Luwuk dalam kondisi sangat kritis tanpa didampingi bantuan oksigen sama sekali. “Sehingga sekarang ini dirujuk ke RSU Luwuk tanpa ada bantuan oksigen,” tambah Herman mengecam pengabaian standar keselamatan pasien dalam proses rujukan darurat tersebut.
Saat dikonfirmasi mengenai kekosongan stok vital tersebut, Kepala Puskesmas Bualemo justru melemparkan pangkal persoalan ke tingkat dinas. Pihak puskesmas mengklaim telah mengajukan permintaan pasokan, namun tidak mendapat tanggapan cepat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai. “Kami dari puskesmas sudah bermohon kepada dinas kesehatan kabupaten, akan tetapi sudah berapa hari ini tidak ada oksigen masuk,” aku Kepala Puskesmas lantang.
Pengakuan tersebut diperkuat dengan bukti komunikasi internal yang menunjukkan buruknya koordinasi antarinstansi. Kepala Puskesmas menegaskan bahwa terkait ketersediaan tabung oksigen tersebut memang belum diisi, merujuk pada keterangan resmi melalui pesan tertulis WhatsApp dari pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai yang menunda pengiriman.
Saling lempar tanggung jawab antara pihak puskesmas dan dinas kesehatan semakin mempertegas benang kusut buruknya manajemen logistik medis di daerah. Ketika krisis oksigen terjadi di fasilitas milik pemerintah, publik berhak mempertanyakan sejauh mana komitmen serta fungsi kontrol otoritas kesehatan dalam menjamin kelangsungan hidup warga di wilayah pelosok.
Ketidaktersediaan oksigen di ruang perawatan darurat bukan sekedar masalah teknis atau keterlambatan distribusi semata, melainkan wujud nyata dari kelalaian sistemik yang mengabaikan hak asasi manusia atas pelayanan kesehatan layak. Tidak ada alasan logis maupun administratif yang dapat membenarkan fasilitas medis aktif beroperasi dalam keadaan kosong pasokan penunjang kehidupan.
Kasus yang menimpa Hered Makahaube ini mendesak adanya evaluasi total, audit transparan, serta investigasi menyeluruh terhadap jajaran pimpinan Puskesmas Bualemo dan Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai. Otoritas terkait dituntut memberikan pertanggungjawaban nyata dan sanksi tegas, bukan sekedar melempar wacana permohonan maaf formal di tengah ancaman keselamatan jiwa rakyat kecil.






