MOROWALI UTARA – BTN 24/01/2016-Slogan kesejahteraan melalui investasi nikel di Morowali Utara (Morut) kian terasa hambar di telinga rakyat. Faktanya, alih-alih mencicipi kemakmuran, warga justru harus “memanen” penyakit. Data terbaru mengungkap fakta mengerikan, 336 warga terjangkit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hanya dalam waktu empat hari.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Angka ini bukan sekedar statistik, melainkan alarm darurat kesehatan yang membuktikan bahwa kualitas udara di Morut sudah berada di titik nadir.Lonjakan fantastis ini memicu kecaman keras. Aktivitas pertambangan dan hilirisasi nikel yang diagung-agungkan sebagai penggerak ekonomi, kini dituding sebagai dalang utama di balik polusi debu yang menyelimuti pemukiman warga.

​”Rata-rata 84 orang jatuh sakit setiap hari. Ini bukan lagi musibah alam, ini adalah kelalaian sistemik!” tegas para pengamat lingkungan. Truk-truk raksasa pengangkut ore yang melintasi jalanan tanpa mitigasi debu yang layak dianggap sebagai ‘pembunuh senyap’ bagi anak-anak dan lansia di daerah lingkar tambang.

​Ketajaman kritik juga diarahkan pada Pemerintah Daerah dan Dinas Kesehatan yang dinilai hanya berperan sebagai “pemadam kebakaran”​Ke mana pengawasan lingkungan?

Mengapa perusahaan dibiarkan membiarkan debu beterbangan tanpa sanksi tegas? Apakah Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih berharga daripada nyawa warga?

​Hingga saat ini, komitmen Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan raksasa di Morut dipertanyakan. Alih-alih membangun rumah sakit paru yang mumpuni, kontribusi korporasi dianggap belum sebanding dengan kerusakan ekologis dan dampak kesehatan yang ditimbulkan.

​Kami mendesak pemerintah untuk,Periksa kembali amdal dan sistem pengelolaan debu seluruh perusahaan tambang di Morut.Cabut izin operasi perusahaan yang terbukti lalai dalam mitigasi polusi udara.Perusahaan wajib bertanggung jawab penuh atas seluruh biaya pengobatan pasien ISPA di wilayah terdampak.

​Morowali Utara sedang darurat napas. Jangan sampai nikel mengkilap di pasar global, sementara paru-paru rakyat menghitam di tanah sendiri.

Tim redaksi