BALANTAK UTARA, BANGGAI – BTN 05/07/2026-Akses jalan Trans Sulawesi di wilayah Kabupaten Banggai kini mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Pemprov Sulteng). Melalui alokasi dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Provinsi, Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Sulteng resmi memulai proyek rekonstruksi infrastruktur jalan pada ruas Pangkalaseang – Balantak – Sobol.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam membenahi infrastruktur yang menjadi urat nadi penghubung antar-kecamatan di wilayah pesisir timur Banggai. Keberadaan jalur ini dinilai sangat vital lantaran menjadi akses utama mobilitas logistik dan masyarakat setempat yang selama ini kondisinya cukup memprihatinkan.

​Berdasarkan data teknis yang tercantum pada papan informasi proyek, pekerjaan fisik ini telah resmi dimulai sejak tanggal 25 Mei 2026. Pemerintah provinsi mengalokasikan jangka waktu pelaksanaan yang cukup panjang, yakni selama 600 hari kalender, guna memastikan seluruh tahapan rekonstruksi berjalan optimal dan memenuhi standar kelayakan baku.

​Dengan durasi pengerjaan tersebut, mega proyek infrastruktur ini ditargetkan rampung sepenuhnya pada tahun 2028 mendatang. Adapun sumber pendanaannya menggunakan skema penganggaran tahun jamak yang bersumber dari dana APBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk Tahun Anggaran 2026 sampai dengan tahun 2028.

​Merujuk pada dokumen kontrak kerja, nilai investasi yang digelontorkan oleh Pemprov Sulteng untuk proyek ini mencapai Rp34.647.492.000. Pelaksanaan proyek dengan nomor kontrak resmi 622/591/SP-Dis.BMPR tersebut dipercayakan kepada pihak penyedia jasa kontruksi nasional, yakni PT Ariescont Perdana.

​Skema pengerjaan yang tertuang dalam papan informasi proyek menegaskan nama paket ini sebagai Rekonstruksi Jalan Ruas Pangkalaseang – Balantak – Sobol dengan sistem Multi-Years Contract (MYC). Penerapan sistem kontrak tahun jamak ini dipilih agar kesinambungan pembiayaan proyek tetap terjamin tanpa terkendala siklus anggaran tahunan.

​Pihak Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang Provinsi Sulawesi Tengah bertindak sebagai pengawas langsung di lapangan guna memastikan seluruh spesifikasi teknik terpenuhi. Mengingat durasi kerja yang memakan waktu hingga 600 hari, pihak dinas terkait mengimbau masyarakat pengguna jalan untuk bersabar dan berhati-hati saat melintas di area proyek.

​Selama proses pengerjaan berlangsung, pihak pelaksana akan menerapkan rekayasa lalu lintas dengan sistem buka-tutup jalan di beberapa titik krusial. Pengaturan ini terpaksa dilakukan guna menjaga keselamatan pekerja konstruksi sekaligus memastikan arus lalu lintas masyarakat tetap bisa berjalan secara bergantian.

​Apabila seluruh tahapan proyek berjalan lancar sesuai target pada tahun 2028, masyarakat di sepanjang ruas Batumandi hingga Ondoliang dipastikan akan menikmati kondisi jalan baru. Struktur jalan pasca-rekonstruksi direncanakan menjadi lebih lebar, kokoh, serta memiliki standar kualitas yang jauh lebih tinggi dibanding kondisi sebelumnya.

​Peningkatan kualitas jalan ini diproyeksikan mampu mendongkrak roda perekonomian masyarakat di kawasan pesisir timur Banggai secara signifikan. Selain itu, selesainya proyek ini juga diharapkan dapat mendukung sistem konektivitas dan integrasi logistik di wilayah Sulawesi Tengah secara keseluruhan.

​Respons positif mengalir dari jajaran pemerintah tingkat kecamatan atas dimulainya proyek ini. Penjabat (Pj) Camat Balantak Utara, Joni Nursin, menyampaikan apresiasi dan aspirasi mendalamnya kepada awak media mengenai komitmen nyata yang ditunjukkan oleh jajaran Pemprov Sulteng.

​Joni Nursin menegaskan bahwa kehadiran jalur yang layak merupakan kabar baik yang sudah lama dinantikan oleh seluruh lapisan masyarakat di wilayahnya. Kendati demikian, ia juga mengingatkan pihak pelaksana proyek agar tetap menjaga kualitas mutu pekerjaan serta memprioritaskan penyerapan tenaga kerja lokal dari desa-desa sekitar.

​Sebagai informasi, kondisi jalur transportasi di wilayah Balantak Utara, khususnya pada titik Desa Batumandi hingga Desa Ondoliang, memang kerap dikeluhkan oleh warga. Selain geometric jalan yang sempit, kawasan tersebut rawan longsor dan mengalami kerusakan parah berupa kubangan lumpur setiap kali memasuki musim penghujan

Muhlis Asamin