WAINGAPU, BTN –31/01/2026- Potret buram pendidikan di Kabupaten Sumba Timur kembali terkoyak. SD Masehi Tawui, yang terletak di Kecamatan Pinupahar, kini berada di ambang kelumpuhan total. Pasca-mutasi kepala sekolah beberapa waktu lalu, institusi pendidikan ini dibiarkan “tanpa nakhoda” dan krisis tenaga pendidik, membuat masa depan ratusan siswa kini dipertaruhkan.
Kondisi ini memicu kritik pedas dari Ketua Komite SD Masehi Tawui, Andreas Dundu Tay. Ia menilai pemerintah daerah seolah menutup mata terhadap ketimpangan pendidikan yang terjadi di wilayah pedesaan.
Andreas membeberkan fakta yang menyayat hati,dengan total 195 siswa dari kelas I hingga VI, sekolah tersebut hanya memiliki dua orang pengajar aktif,satu guru ASN dan satu guru PPPK. Secara matematis, satu orang guru dipaksa menangani hampir 100 murid sekaligus.
“Bayangkan, dua orang guru harus melayani hampir dua ratus murid. Ini bukan mengajar, ini memaksa guru melakukan hal yang mustahil. Bagaimana anak-anak kita bisa cerdas jika sistemnya dibiarkan hancur seperti ini?” cecar Andreas kepada Media BTN, Kamis (30/1/2026).
Lebih ironis lagi, kekosongan kursi kepala sekolah definitif telah dibiarkan berlarut-larut tanpa solusi konkret dari Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Timur. Andreas mengaku pihaknya sudah melayangkan surat resmi, namun hingga detik ini, respons pemerintah masih nihil.
Ketidakmampuan Dinas Pendidikan dalam mendistribusikan tenaga pengajar secara merata dituding sebagai bukti kegagalan manajemen birokrasi di Sumba Timur.
“Kami mohon Bupati Sumba Timur dan DPRD jangan hanya duduk diam. Jangan sampai anak-anak di desa menjadi korban ego mutasi dan kelalaian administratif. Kami butuh guru, bukan janji!” tegas Andreas dengan nada geram.
Upaya konfirmasi kepada Kepala Dinas Pendidikan Sumba Timur pun menemui jalan buntu. Alasan klasik “kendala jaringan” menjadi tabir yang menutupi bungkamnya pihak otoritas terkait krisis yang mengancam hak pendidikan anak-anak di Tawui.
Publik kini menanti, apakah Pemkab Sumba Timur akan segera bertindak, atau membiarkan SD Masehi Tawui runtuh secara perlahan di bawah beban ketidakpedulian birokrasi.
(Piter BTN/Red)






