SUMBA TIMUR — BTN 28/02/2026-Slogan “Mencerdaskan Kehidupan Bangsa” nampaknya hanya menjadi isapan jempol bagi anak-anak di pesisir Pantai Selatan Sumba Timur. Kondisi SD Masehi Tawui di Kecamatan Pinu Pahar kini berada di titik nadir,bukan lagi sekedar tidak layak, namun telah berubah menjadi ancaman maut yang mengintai siswa dan pengajar setiap harinya.
Dalam rapat komite sekolah yang digelar Jumat (27/02/2026), suasana haru sekaligus geram menyelimuti ruangan. Para guru mengungkapkan testimoni mengejutkan. mereka mengajar di bawah bayang-bayang ketakutan.
Dinding bangunan yang rapuh dan terkelupas serta atap yang bocor di hampir seluruh sisi bukan lagi pemandangan baru. Saat musim hujan tiba, ruang kelas berubah menjadi kubangan. Pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak, justru bertransformasi menjadi ruang penuh kecemasan.
”Kami mengajar dengan rasa takut. Setiap hujan turun, kami bukan fokus pada materi, tapi was-was jika tiba-tiba atap ambruk menimpa anak-anak,” ungkap salah satu guru dengan nada bergetar.
Ketua Komite SD Masehi Tawui, Andereas Dundu Tay, melontarkan kritik pedas terhadap lambannya respons Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Menurutnya, pihak sekolah sudah menempuh seluruh jalur formal,mulai dari Musrenbang hingga surat resmi ke dinas terkait,namun hasilnya nol besar.
”Kami sudah sampaikan berkali-kali, tapi seolah berteriak di padang gurun. Tidak ada respons nyata. Lewat momentum ini, kami menantang Bapak Bupati dan anggota DPR Sumba Timur.jangan hanya duduk di kursi empuk, lihat langsung kondisi sekolah kami!” tegas Andereas kepada media.
Ironi SD Masehi Tawui tidak berhenti pada fisik bangunan. Sekolah ini mengalami “darurat tenaga pendidik”. Bayangkan, untuk mengelola enam ruang kelas, sekolah hanya memiliki:
1 orang Guru PNS
2 orang Guru PPPK Penuh Waktu
1 orang Guru PPPK Paruh Waktu
Mirisnya lagi, jabatan Kepala Sekolah pun masih dibiarkan kosong tanpa pejabat definitif. Berdasarkan data Dapodik, sekolah ini masih kekurangan minimal dua tenaga pendidik agar proses belajar-mengajar bisa berjalan sesuai standar minimum.
Ketidakpedulian pemerintah terhadap SD Masehi Tawui menjadi preseden buruk bagi komitmen pemerataan pendidikan di wilayah terpencil. Masyarakat menuntut Dinas Pendidikan segera menempatkan Kepala Sekolah definitif dan menambah formasi guru.
”Anak-anak di Pantai Selatan bukan warga kelas dua. Mereka punya hak yang sama untuk belajar dengan aman dan mendapatkan guru yang cukup. Jangan tunggu ada korban jiwa baru pemerintah sibuk mengurus rehabilitasi,” tutup Andereas dengan nada tajam.
Kini bola panas ada di tangan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Apakah mereka akan terus membiarkan gedung ini roboh dimakan waktu, atau akhirnya bergerak demi menyelamatkan masa depan generasi bangsa di Pinu Pahar?
Piter






