LOURA, BTN – Pembangunan gedung Kelompok Bermain (KB) Alfa dan Omega di Dusun Empat, Kampung Langata, Desa Karuni, kini menjadi buah bibir masyarakat. Meski bangunan fisik senilai lebih dari Rp270 juta tersebut telah dinyatakan rampung dan diserahterahkan (PHO), gedung tersebut hingga kini hanya menjadi “monumen” bisu tanpa fungsi karena ketiadaan fasilitas dasar. 19/04/2026
Hasil investigasi lapangan tim Berantas TipikorNews menunjukkan kondisi gedung yang sangat kontras. Di balik dinding yang baru dicat dan kunci yang sudah di tangan pengelola, tidak ditemukan satu pun kursi, meja, maupun sarana penunjang belajar mengajar di dalamnya.
Kondisi ini memicu gelombang tanya dari warga setempat. Masyarakat merasa aneh dengan skema pembangunan yang hanya mementingkan aspek fisik tanpa memikirkan operasional layanan pendidikan bagi anak usia dini.
”Gedung sudah serah terima kunci, tapi di dalam kosong. Pertanyaannya, bagaimana anak-anak kita mau belajar? Apakah pemerintah berharap anak-anak PAUD ini duduk di lantai beton setiap hari? Ini pembangunan yang tidak tuntas,” ketus salah satu warga di lokasi (19/4).
Menanggapi polemik tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Jamal Wungo, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan bahwa anggaran sebesar Rp270 juta tersebut memang hanya dialokasikan untuk pengerjaan fisik bangunan oleh kepala tukang.
“Sesuai perencanaan, pengerjaannya memang hanya fisik bangunan. Untuk perlengkapan atau meubelair, nantinya pihak pengelola yang harus proaktif mengajukan permohonan ke dinas terkait,” ujar Jamal saat dikonfirmasi media.
Pengakuan PPK tersebut justru menguatkan kesan adanya ego sektoral atau buruknya koordinasi perencanaan di tingkat dinas. Pembangunan gedung tanpa fasilitas pendukung dinilai sebagai pemborosan momentum pendidikan bagi anak-anak di Kampung Langata.
Masyarakat mendesak agar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat Daya tidak menutup mata. Warga menuntut pengadaan sarana dan prasarana (sarpras) dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya. Jangan sampai gedung yang dibangun dengan uang rakyat ratusan juta rupiah ini rusak dimakan waktu sebelum sempat mencetak generasi cerdas dari Desa Karuni.
Sumber: Berantas TipikorNews Com.id






