MINAHASA TENGGARA – BTN 20/01/2026-Tanah Ratatotok kini tak lagi berkilau emas, melainkan bersimbah darah. Sebuah tragedi kemanusiaan yang terencana secara keji telah merobek rasa aman warga Sulawesi Utara. Ini bukan sekadar pertikaian lahan biasa,ini adalah aksi pembantaian massal (massacre) yang diduga dilakukan oleh gerombolan bayaran bersenjata di bawah kendali aktor intelektual berinisial EM dan kaki tangannya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Teror sistematis ini dimulai pada 19 Desember 2025. Dua utusan EM mendatangi lokasi kerja tambang rakyat dengan angkuh, mengklaim sepihak lahan penghidupan warga. Melalui sambungan video call dengan seseorang bernama IG, ancaman maut diletuskan secara terbuka. “Besok kami datang membawa kado natal, sediakan amunisi!”

​Ancaman itu menjadi kenyataan pahit. Pada hari kejadian, kurang lebih 200 orang gerombolan menyerbu secara membabi buta. Warga yang tidak bersiap dan tak seimbang secara jumlah, dihujani tembakan senjata rakitan, terjangan tombak, hingga lemparan cakram.

​Dampaknya sangat memilukan 3 Anggota Keluarga tewas seketika di lokasi kejadian akibat luka tembak.​Seorang ibu (anisa) menjadi saksi hidup sekaligus korban kekejaman,ia menderita luka tembak tembus di kaki dan satu peluru bersarang di mulutnya. Sebuah luka yang menjadi simbol upaya pembungkaman terhadap rakyat kecil.

​Keluarga korban melalui juru bicaranya mempertanyakan kinerja aparat penegak hukum setempat. Bagaimana mungkin dari sekitar 200 pelaku yang menyerang secara terbuka, baru 15 orang yang diringkus?

​”Dimana sisa pembunuh lainnya? Apakah mereka kebal hukum karena berlindung di bawah ketiak aktor intelektual? Jangan sampai publik berasumsi bahwa modal dan kekuasaan telah berhasil membeli keadilan di Sulawesi Utara,” tegas pihak keluarga.

​Hingga detik ini, para korban masih dihantui teror melalui media sosial oleh akun-akun anonim. Mereka merasa menjadi tawanan di rumah sendiri, sementara para eksekutor lapangan dan otak di balik serangan ini masih bebas menghirup udara segar.

​Rakyat Ratatotok tidak butuh janji diplomasi atau sekedar kunjungan formalitas. Kami menuntut tindakan nyata. Mengingat dugaan keterlibatan kelompok bersenjata terorganisir, Mabes Polri wajib turun tangan untuk memutus mata rantai kelompok kriminal ini.

​Tangkap EM dan IG,Seret aktor intelektual dan penyandang dana serangan ke pengadilan tanpa pandang bulu.​Tangkap Seluruh Pelaku,sekitar 200 orang gerombolan tersebut,jangan biarkan mereka menjadi preseden buruk bagi keamanan di Sulawesi Utara.Negara harus hadir menjamin nyawa keluarga korban yang saat ini masih terus diteror.

​Jangan biarkan Sulawesi Utara menjadi wilayah hukum yang mati. Jika keadilan tidak segera ditegakkan, maka wajah hukum kita hanya tajam ke bawah namun tumpul pada mereka yang memiliki kapital.

​KEADILAN UNTUK RATATOTOK. NEGARA TIDAK BOLEH KALAH OLEH OKNUM!

Redaksi