‎
‎JAKARTA, BTN — 12 Juni 2026 – Di tengah panasnya situasi pengamanan aksi demonstrasi di Jakarta, ketika emosi dan ketegangan dapat memicu berbagai kemungkinan, hadir sosok seorang prajurit yang menunjukkan arti sesungguhnya dari pengabdian, kesabaran, dan kehormatan. 15/06/2026
‎
‎Sosok itu adalah Serda Fathur Rahman, prajurit dari Yonif Mekanis 202/Tajimalela yang berasal dari Desa Bajo Liang, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

‎
‎Dalam sebuah video yang beredar luas dan menjadi perhatian masyarakat, terlihat seorang pendemo melontarkan kemarahan dengan menunjuk-nunjuk wajah Serda Fathur Rahman. Situasi tersebut berpotensi memancing reaksi emosional. Namun yang terjadi justru sebaliknya.
‎
‎Serda Fathur Rahman memilih diam. Ia tidak membalas dengan amarah. Tidak menunjukkan gestur agresif. Yang tampak hanyalah senyum tenang, tatapan penuh kesabaran, dan sikap profesional yang mencerminkan kedewasaan seorang prajurit sejati.
‎
‎Di balik seragam loreng yang dikenakannya, tersimpan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh kedua orang tuanya.
‎
‎Putra dari almarhum Kusno Duhing, S.Pd dan Suparni D. Karimung, A.Md.Keb itu menunjukkan kepada bangsa bahwa kekuatan seorang prajurit bukan hanya terletak pada keberanian menghadapi ancaman, tetapi juga pada kemampuan mengendalikan diri ketika dihadapkan pada tekanan dan provokasi.
‎
‎Sikap yang ditunjukkan Serda Fathur Rahman bukan sekadar tindakan spontan. Itu adalah cerminan hasil pembinaan karakter, disiplin, serta loyalitas terhadap sumpah prajurit yang telah diucapkannya. Ketika banyak orang memilih membalas kemarahan dengan kemarahan, ia justru membalasnya dengan ketenangan.
‎
‎Momen  itu menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia. Bahwa menjaga kedamaian sering kali membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar dibandingkan membalas emosi sesaat.
‎
‎Bagi masyarakat Banggai Kepulauan, nama Serda Fathur Rahman kini menjadi kebanggaan daerah. Dari pelosok Bajo Liang, lahir seorang putra bangsa yang mampu menunjukkan wajah humanis TNI kepada seluruh Indonesia. Ia hadir bukan sebagai sosok yang mencari pujian, melainkan sebagai prajurit yang menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab dan kehormatan.
‎
‎Keteladanan yang ditunjukkan Serda Fathur Rahman layak menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Di tengah berbagai tantangan kebangsaan, bangsa ini membutuhkan figur-figur yang mampu mengedepankan kesabaran, persatuan, dan pengabdian tanpa pamrih.
‎
‎Banyak pihak berharap kisah pengabdian dan keteladanan ini mendapatkan perhatian serta apresiasi dari pimpinan TNI maupun pemerintah pusat. Sebab penghargaan kepada prajurit yang menunjukkan profesionalisme dan pengendalian diri yang luar biasa bukan hanya bentuk penghormatan kepada individu, tetapi juga penghargaan terhadap nilai-nilai luhur yang dijaga oleh seluruh prajurit Indonesia.
‎
‎Senyum tenang Serda Fathur Rahman telah mengajarkan satu hal penting kepada bangsa ini bahwa “kehormatan tidak selalu ditunjukkan dengan kekuatan, tetapi sering kali lahir dari kesabaran yang tetap teguh berdiri di tengah badai”.
‎
‎Dari Bajo Liang Banggai Kepulauan untuk Indonesia, Serda Fathur Rahman telah menunjukkan bahwa ketenangan adalah bentuk keberanian yang paling mulia.
‎