Tambolaka, BTN – Sebuah lompatan digital signifikan terjadi di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Berdasarkan hasil investigasi dan laporan eksklusif tim kolaborasi http://CompasNasional.Com, Satuan Reserse Kriminal Polres Sumba Barat Daya resmi dinobatkan sebagai yang terbaik di Indonesia. 12/06/2026
Satreskrim Polres SBD meraih Peringkat 1 Nasional dalam aspek keaktifan, akurasi, dan kepatuhan input data pada Aplikasi Elektronik Manajemen Penyidikan Bareskrim Polri untuk periode satu bulan terakhir.
Pencapaian ini tergolong luar biasa. Polres SBD sukses mengungguli ratusan Polres lain di kota-kota besar seluruh Indonesia yang memiliki fasilitas infrastruktur jaringan dan teknologi jauh lebih mapan.
*Data dan Analisis Investigatif: Transparansi Perkara di Balik Layar*
Aplikasi E-MP bukan sekadar instrumen administrasi digital biasa. Sistem ini merupakan alat kendali mutu penegakan hukum yang dipantau langsung secara real-time oleh Bareskrim Mabes Polri. Melalui sistem integrasi ini, setiap tahapan perkara mulai dari penerimaan Laporan Polisi, penerbitan SPDP, Surat Perintah Penyidikan, hingga pelimpahan berkas ke kejaksaan wajib diunggah. Langkah ini krusial untuk mencegah praktik “peti es” atau penumpukan perkara dan manipulasi penanganan kasus di tingkat daerah.
Berdasarkan data komparatif internal yang dihimpun, Satreskrim Polres SBD mencatatkan persentase validasi data tertinggi di Indonesia. Fakta lapangan ini mematahkan stigma lama bahwa keterbatasan infrastruktur internet di wilayah Indonesia Timur selalu menjadi batu sandungan utama bagi modernisasi kerja kepolisian.
*Penelusuran Lapangan: Konsistensi Kerja 24 Jam di Tengah Keterbatasan*
Tim investigasi mendapati bahwa capaian mentereng ini tidak diraih secara instan. Di bawah komando Kapolres Sumba Barat Daya, diterapkan mekanisme kendali internal yang sangat ketat dan berjenjang.
Tantangan di wilayah NTT adalah stabilitas jaringan internet dan manajemen waktu personel di lapangan. Guna menyiasati hal tersebut, Satreskrim Polres SBD menerapkan sistem piket operator berlapis. Operator data bekerja 24 jam bergiliran tepat setelah penyidik menyelesaikan satu tindakan hukum di lapangan. Setiap berkas perkara dipastikan lolos verifikasi digital dalam waktu kurang dari 2 jam setelah tindakan hukum selesai dilaksanakan.
Saat dikonfirmasi terkait rahasia di balik efisiensi digital ini, Wakapolres Sumba Barat Daya Kompol Marthin Ardjon, S.H. menegaskan bahwa pencapaian ini adalah buah dari reformasi kultural, kedisiplinan anggota, sekaligus pengejawantahan dari doktrin kepemimpinan utama di Polres SBD.
“Kami tidak membantah adanya kendala infrastruktur jaringan di Sumba. Namun sesuai prinsip kerja Kapolres Sumba Barat Daya AKBP Harianto Rante Salu, S.I.K., M.H., KAI, ditekankan untuk tidak menjadikan kendala dan hambatan sebagai alasan,” ungkap Kompol Marthin Ardjon, S.H.
“Dengan filosofi kepemimpinan beliau, kami memangkas ego sektoral dan menerapkan sistem punishment and reward yang ketat terhadap operator serta penyidik. Perlu dicatat, Polres SBD berhasil meraih ranking 1 dalam penginputan E-MP dari total 514 Polres kewilayahan yang ada di Indonesia. Jika ada penundaan input data lebih dari 2 jam tanpa alasan force majeure, tim asistensi dari Polres akan langsung turun melakukan audit investigatif internal ke satuan tersebut,” tegasnya.
Beliau menambahkan bahwa transparansi digital melalui E-MP ini adalah benteng pertahanan Polres SBD untuk menutup rapat celah transaksional dalam penanganan perkara. “Peringkat satu nasional di antara Polres kewilayahan ini bukan sekadar angka, melainkan indikator bahwa setiap laporan masyarakat kami kelola secara akuntabel, tanpa ruang untuk intervensi atau penyalahgunaan wewenang,” pungkasnya kepada tim kolaborasi media.






