MAKASSAR, BTN – 14 Januari 2026, Perjuangan Wirna (32), seorang ibu tunggal asal Desa Pelei, Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep), Sulawesi Tengah, untuk menjemput kesembuhan di Kota Makassar kini berujung pilu. Alih-alih fokus pada pemulihan, ia kini harus berjuang bertahan hidup di tengah keterbatasan biaya yang mencekik.
Perjalanan Wirna dimulai pada 29 Desember 2025, saat ia dirujuk oleh RSUD Banggai ke Rumah Sakit UNHAS Makassar. Berdasarkan diagnosa medis, ia menderita Stress Incontinence—sebuah gangguan pengeluaran urine yang mengharuskannya menjalani pengobatan lanjutan secara intensif.
Sebagai orang tua tunggal yang memikul tanggung jawab menghidupi anak kecilnya di kampung halaman, Wirna berangkat dengan bekal uang seadanya. Namun, realita di lapangan jauh lebih pahit dari yang dibayangkan. Meski biaya pengobatan ditanggung oleh BPJS, beban biaya hidup, akomodasi, dan kebutuhan harian selama di Makassar menjadi momok yang melumpuhkan finansialnya.
Kondisi memprihatinkan Wirna menyita perhatian Ikatan Mahasiswa Banggai Kepulauan di Makassar (IKMBM). Organisasi yang dikenal responsif terhadap isu sosial ini bergerak cepat mengevakuasi Wirna ke sekretariat mereka untuk memberikan tumpangan sementara.
Aprianto, Pembina IKMBM, mengungkapkan keprihatinannya atas situasi ini. Ia menyebut para mahasiswa bahkan rela menyisihkan uang saku mereka demi membantu kebutuhan dasar sang pasien.
“Adik-adik mahasiswa hanya bermodal semangat dan rasa kemanusiaan. Mereka menyisihkan uang jajan untuk membeli popok, bahan makanan, hingga alat mandi. Namun, kemampuan kami terbatas,” ujar Aprianto.
Hingga rilis ini dikeluarkan, kondisi Wirna kian mendesak. Uang di kantongnya kini hanya tersisa Rp45.000. Angka yang sangat tidak mencukupi untuk menunjang proses pengobatan yang masih panjang di perantauan.
Pihak IKMBM mengetuk pintu hati pemerintah daerah, para dermawan, serta seluruh elemen masyarakat untuk membantu meringankan beban Wirna agar ia bisa segera sembuh dan kembali berkumpul bersama buah hatinya.






