SUMBA BARAT DAYA – BTN 07/01/2026 Rumor tentang kehancuran hutan kawasan di Sumba Barat Daya kini bukan lagi sekedar isapan jempol. Investigasi lapangan mengungkap fakta pahit,paru-paru bumi di wilayah ini tengah “dimutilasi” secara masif oleh oknum tak bertanggung jawab, sementara pihak yang digaji negara untuk menjaganya justru dituding lumpuh tak berdaya.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Temuan yang paling memuakkan dalam pantauan media adalah lokasi pembalakan liar yang terdeteksi hanya berjarak sekitar 200-300 meter dari Kantor UPT-Polhut SBD. Secara nalar, mustahil suara deru mesin sensor (sinso) tidak terdengar oleh petugas.

​Muncul pertanyaan publik yang pedas. Apakah para petugas Polhut sedang tidur lelap, atau sengaja memejamkan mata karena ada “main mata” dengan para pelaku? Sangat ironis jika aparatur yang dibayar dari pajak rakyat justru membiarkan ekosistem alam yang diamanatkan negara hancur berkeping-keping. Jika mereka paham tupoksi, pembalakan di depan mata ini seharusnya tidak pernah terjadi.

​Dalam aksi pengecekan langsung bersama Babinsa Kota, tim media menyaksikan sisa-sisa kejahatan lingkungan yang masih hangat. Para pelaku hampir tertangkap basah, namun berhasil melarikan diri membawa mesin sensor setelah informasi diduga bocor.

​Di lokasi, ditemukan satu unit gerobak dorong yang ditinggalkan pelaku sebagai barang bukti nyata adanya aktivitas pengangkutan kayu ilegal secara terorganisir. Kerusakan ini ditemukan merata di titik-titik krusial seperti Wee Wulumanu, Gollu Dapi, Sekolah Tani, dan Wee Kaka.

​Akibat keserakahan oknum di desa Wee Londa dan Watu Kawula, warga kini mulai memanen bencananya. Pada musim hujan terakhir, pemukiman warga sudah terendam banjir setinggi lutut.

​Masyarakat kini dicekam ketakutan luar biasa. Mereka khawatir tragedi banjir bandang di Sumatera yang menelan lebih dari 100 korban jiwa akan terulang di Sumba Barat Daya jika hutan kawasan terus digunduli. Keresahan inilah yang memicu warga melapor kepada Babinsa karena merasa fungsi kontrol dari Polhut sudah tidak bisa lagi diandalkan.

​Kinerja UPT-Polhut SBD kini berada di titik nadir kepercayaan masyarakat. Publik mendesak,Evaluasi total terhadap seluruh petugas Polhut yang bertugas di sekitar lokasi pembalakan.Jangan hanya mengejar masyarakat kecil, tapi usut tuntas oknum yang terdaftar dalam kontrak kawasan yang diduga ikut bermain.

Hutan bukan untuk ditonton saat sudah gundul, tapi dijaga sebelum pohon terakhir tumbang.​Jika Polhut tetap memilih untuk “menina-bobokan” diri, maka rakyat berhak bertanya.Untuk apa institusi ini masih dipertahankan di Sumba Barat Daya?tutup salah satu warga dengan nada kecewa

​Laporan: Eman Ledu

Kabiro SBD – Berantas TipikorNews