SURABAYA, BTN — Pendidikan tidak boleh berhenti pada slogan, pidato, atau sekadar kebanggaan menyandang gelar akademik. Pendidikan harus dibuktikan melalui perjuangan nyata, konsistensi, dan keteladanan yang mampu menginspirasi generasi berikutnya. 18/10/2026
Pesan tegas itu tercermin dalam perjalanan Soleman Tarandima, yang meraih gelar Magister Manajemen (S2) dalam Wisuda ke-64 Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Pencapaian tersebut bukan sekedar seremoni akademik. Di balik toga yang dikenakan, terdapat perjalanan pendidikan yang menjadi bagian penting dalam membangun kualitas diri sekaligus memperkuat nilai pendidikan di lingkungan keluarga.
Bagi Soleman, keberhasilan meraih gelar magister memiliki makna lebih luas. Pendidikan bukan hanya tentang selembar ijazah, melainkan tentang kemauan untuk terus berkembang dan memberikan contoh bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia.
BUKTI NYATA: SEMANGAT BELAJAR TIDAK BOLEH PADAM
Meraih gelar magister merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, makna pendidikan yang sesungguhnya tidak berhenti ketika nama seseorang tercatat sebagai lulusan perguruan tinggi.
Pendidikan menuntut tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan, memperluas wawasan, dan menerapkan pengetahuan secara bermanfaat dalam kehidupan.
Di tengah tuntutan peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia, kisah Soleman menjadi pengingat bahwa semangat belajar harus terus dipelihara. Gelar akademik bukan garis akhir, melainkan bekal untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya.
Masyarakat membutuhkan lebih banyak contoh nyata tentang pentingnya pendidikan, bukan sekadar ajakan tanpa tindakan.
KEBANGGAAN KELUARGA, JEJAK PENDIDIKAN ANTARGENERASI
Perjalanan akademik Soleman semakin bermakna ketika dikaitkan dengan pencapaian pendidikan putra-putrinya.
Berdasarkan informasi yang disampaikan keluarga, anak-anak Soleman telah menyelesaikan pendidikan Strata Dua (S2). Salah seorang di antaranya juga telah menempuh pendidikan dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi (Obgyn).
Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan keluarga sekaligus gambaran mengenai pentingnya menempatkan pendidikan sebagai prioritas.
Keberhasilan pendidikan tidak terjadi dalam ruang kosong. Ada proses panjang, dukungan, ketekunan, dan komitmen yang menyertainya. Ketika nilai-nilai itu dijaga dalam keluarga, pendidikan dapat menjadi tradisi positif yang diteruskan kepada generasi berikutnya.
Namun, setiap pencapaian tetap merupakan hasil perjuangan masing-masing individu. Karena itu, keberhasilan Soleman dan putra-putrinya patut dilihat sebagai kisah tentang semangat belajar, bukan sekadar perlombaan mengumpulkan gelar.
Gelar akademik boleh menjadi kebanggaan, tetapi karakter, integritas, dan manfaat bagi masyarakat harus tetap menjadi ukuran penting dari nilai pendidikan.
MOMEN WISUDA KE-64 STIESIA SURABAYA
Dalam momentum wisuda pada 17 Oktober 2026 tersebut, Soleman Tarandima mengabadikan momen bersama Ketua STIESIA Surabaya, Prof. Dr. Nur Fadjrih Asyik, S.E., M.Si., Ak., CA.
Wisuda ke-64 STIESIA Surabaya mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Ahli Madya (D3), Sarjana (S1), Magister (S2), Doktor (S3), hingga Pendidikan Profesi Akuntan.
Momentum tersebut menjadi perayaan atas pencapaian para lulusan setelah melalui proses pendidikan masing-masing. Bagi Soleman, wisuda itu sekaligus menandai selesainya satu tahap perjuangan akademik dan dimulainya tanggung jawab baru untuk terus mengembangkan diri.
PESAN NASIONAL: JANGAN UKUR KEBERHASILAN HANYA DARI GELAR
Kisah Soleman Tarandima membawa pesan yang relevan bagi masyarakat luas. Pendidikan harus menghasilkan manusia yang tidak hanya memiliki kualifikasi akademik, tetapi juga mampu menunjukkan tanggung jawab, integritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitarnya.
Pemerintah, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk memperkuat budaya belajar serta memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas.
Prestasi individu layak diapresiasi, tetapi tantangan pendidikan nasional tetap membutuhkan kerja nyata dan komitmen berkelanjutan dari berbagai pihak.
Gelar Magister Manajemen yang diraih Soleman merupakan pencapaian pribadi yang membanggakan. Perjalanan pendidikan keluarganya pun menjadi bagian dari kisah tentang pentingnya ketekunan dan keteladanan.
Pada akhirnya, toga akan dilepas dan seremoni wisuda akan berlalu. Yang seharusnya tetap bertahan adalah ilmu, karakter, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
BERANTAS TIPIKOR NEW menegaskan: pendidikan tidak cukup dibanggakan melalui gelar yang disandang. Pendidikan harus tercermin dalam sikap, integritas, dan tindakan nyata. Sebab, warisan terbaik bagi generasi penerus bukan sekedar harta atau nama besar, melainkan ilmu pengetahuan dan keteladanan yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya.
(BTN/Redaksi)
Piter Kabiro Sumba Timur






