WAINGAPU, BTN 31 Januari 2026 – Sementara pejabat daerah sibuk dengan retorika pembangunan di pusat kota, ribuan warga di Desa Ramuk dan Desa Mahaniwa, Kecamatan Pinu Pahar, justru dipaksa hidup dalam “zaman kegelapan” aksesibilitas. Jalan raya yang hancur lebur dan ancaman longsor yang mengintai setiap saat menjadi bukti bisu pengabaian sistematis Pemerintah Kabupaten Sumba Timur terhadap wilayah pedalaman.
Kondisi ini bukan sekadar masalah teknis infrastruktur, melainkan bentuk pelumpuhan ekonomi warga secara paksa.
Ketiga desa,Ramuk, Mahaniwa, dan Katikuwai,adalah lumbung komoditas unggulan. Kemiri, porang, sirih, dan pinang melimpah ruah. Namun, kekayaan ini menjadi tak berharga saat akses menuju Kota Waingapu tertutup total oleh lumpur dan longsor.
”Kami seperti dianaktirikan. Kami punya hasil bumi, tapi tidak punya jalan. Pemerintah hanya tahu kami ada saat butuh suara, tapi saat musim hujan seperti ini, kami dibiarkan terisolasi dan tak berdaya,” ungkap seorang warga dengan nada pedas melalui media BTN.
Lebih ironis lagi, hak warga untuk sehat seolah dirampas. Akses menuju Puskesmas Tanarara maupun RSUD Umbu Rara Meha kini hanya menjadi angan-angan bagi warga yang sakit. Tanpa jembatan dan jalan yang layak, nyawa warga menjadi taruhannya.
Masyarakat kini menuntut solusi nyata, bukan sekedar janji perbaikan yang selalu “menguap” setiap tahunnya.yaitu
Pembangunan Jembatan Permanen yang menghubungkan wilayah Pinu Pahar dan Matawai Lapawu.
Pembangunan Puskesmas di Desa Katikuwai agar warga tidak perlu bertaruh nyawa menempuh jarak jauh hanya untuk mendapatkan pertolongan medis dasar.
Kemana perginya anggaran daerah yang katanya dialokasikan untuk pemerataan pembangunan? Rakyat bertanya-tanya, apakah para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Sumba Timur masih memiliki telinga untuk mendengar jeritan dari balik longsoran tanah di Ramuk dan Mahaniwa?
Publik menanti keberanian Bupati Sumba Timur untuk turun langsung dan memberikan kepastian anggaran. Masyarakat tidak butuh pidato manis. mereka butuh aspal, jembatan, dan fasilitas kesehatan. Jangan sampai isolasi ini terus dipelihara hingga menjadi bom waktu kemiskinan yang kian mendalam di pelosok Sumba Timur.
Kabiro Sumba Timur,Piter






