Loura, BTN — Sejak Indonesia merdeka, Loura dikenal sebagai pintu masuk utama wilayah barat Pulau Sumba melalui Pelabuhan Waikelo dan Bandara Tambolaka. Namun, perhatian serius pemerintah terhadap pengembangan wilayah ini dinilai masih minim. 30/04/2026
Sumber terpercaya/Rato Adat Loura menjelaskan, berbagai destinasi pariwisata dan situs bersejarah di Loura tidak mendapat perhatian serius pemerintah, khususnya dinas terkait. “Adapun keinginan-keinginan pemerintah, itupun juga tidak sesuai harapan masyarakat adat,” ujarnya.
Contohnya Pantai Mananga Aba. Sumber menegaskan bahwa Mananga Aba adalah sebuah tempat bersejarah. “Yang sebenarnya dalam ritualnya adalah: Mananga artinya muara, Aba artinya leluhur. Jadi Mananga Aba itu muara leluhur, bukan sekedar pantai wisata,” jelas sumber.
Awal ritual pada pesisir Mananga Aba bahwa para leluhur turun dari pedalaman untuk melakukan _toda marapu_ di muara. “Sehingga tempat itu dinamakan Mananga Aba, bukan pantai kita. Ada nilai sakral yang tidak boleh dilanggar,” katanya.
Berkaitan dengan Batu Penyu di lokasi yang sama, sumber menuturkan, “Bahwa kala itu seekor penyu besar terdampar saat air pasang besar. Dan ketika air laut surut, tertinggallah penyu tersebut dan menjadi batu. Itu jadi pertanda bagi leluhur.”
Berdasarkan ini, para leluhur mengadakan musyawarah dan mengambil tempat khusus. “Bahwa para Rato, duduk bersila berbicara mengatur adat, mengatur wilayah kabisu, sekaligus menata batas tanah,” ujarnya. Ia menyebut areal tersebut menjadi batas beberapa suku: perbatasan dengan Kodi Bukaregha di barat, dan di bagian ujung timur terbagi dua suku. “Natara Tanah adalah Ina Amanya beberapa suku sehingga lokasi Natara Tanah pada sempit dalam kisah Loura,” jelasnya.
Juga berkaitan dengan pembatalan air laut naik atau _kalango wai_, di situ ada penanaman pohon Bunga/Cemara laut oleh leluhur sebagai penolak bala. “Itu ritual keselamatan kampung,” tambahnya.
Nah berkaitan dengan penataan beberapa tempat destinasi pada perkembangan zaman sekarang, sumber menegaskan bahwa hingga saat ini wilayah Loura belum mendapat perhatian serius pemerintah. “Banyak nilai-nilai susila dan sejarah yang tidak masuk akal sehat kalau diabaikan. Oleh karena itu Loura belum tersentuh semestinya,” pungkasnya.
Tokoh adat berharap dinas pariwisata dan dinas kebudayaan SBD mulai melibatkan para Rato dalam menata situs sejarah dan destinasi agar tidak salah kelola dan melanggar adat.
**** Berantas TipikorNews Co.id ****






