SUMBA TIMUR, NTT, BTN — Tradisi adat masyarakat Sumba Timur kembali menjadi bagian penting dalam prosesi pemakaman Mama Rambu Karerihara, mama kandung dari Kebha Palandima, S.H., S.Pd., M.Pd., M.H., yang akan dikebumikan secara adat di Kampung Tihu Ahu, Desa Konda Mara, Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur. 25/09/2026
Mama Rambu Karerihara lahir pada 31 Desember 1934 dan meninggal dunia pada 17 September 2026. Jenazah almarhumah akan dimakamkan pada Sabtu, 26 September 2026, melalui prosesi adat Sumba Timur.
Karena almarhumah berasal dari keluarga ningrat, prosesi pemakaman tidak hanya menjadi momentum penghormatan terakhir bagi keluarga, tetapi juga menjadi bagian dari pelaksanaan tradisi adat yang masih dijaga oleh masyarakat Sumba.
Salah satu rangkaian adat berlangsung pada Jumat malam, 25 September 2026, yang dikenal dengan istilah Pameti Maling (PM).
Dalam tradisi tersebut, keluarga dan para rumpun adat yang telah diundang berkumpul untuk mengikuti rangkaian persiapan menuju prosesi pemakaman almarhumah.
Menariknya, jumlah rombongan adat yang diundang mencapai 127 rombongan, yang berasal dari sejumlah wilayah di Sumba Timur dan Sumba Barat.
Kehadiran puluhan hingga ratusan rombongan tersebut menunjukkan bahwa pemakaman dalam tradisi Sumba bukan semata-mata urusan keluarga inti. Di dalamnya terdapat hubungan kekerabatan, ikatan adat, penghormatan kepada leluhur, serta tanggung jawab sosial antarrumpun yang diwariskan secara turun-temurun.
Kebha Palandima ketika diwawancarai wartawan Berantas Tipikor New menjelaskan bahwa sebanyak 127 rombongan adat telah diundang untuk mengikuti rangkaian prosesi tersebut.
Menurutnya, Pameti Maling (PM) menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi adat sebelum prosesi pemakaman dilaksanakan.
Rangkaian adat tersebut sekaligus menjadi ruang berkumpulnya berbagai suku dan rumpun yang memiliki hubungan adat dengan keluarga almarhumah.
Pemakaman Mama Rambu Karerihara pada Sabtu, 26 September 2026 nantinya menjadi puncak penghormatan terakhir keluarga dan para rumpun adat kepada almarhumah.
Di tengah perubahan zaman, prosesi seperti ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sumba masih mempertahankan tata cara adat dalam momentum penting kehidupan, termasuk ketika melepas anggota keluarga menuju tempat peristirahatan terakhir.
Bagi masyarakat Sumba, penghormatan terhadap orang yang meninggal bukan hanya dilakukan melalui doa dan pemakaman, tetapi juga melalui keterlibatan keluarga besar serta komunitas adat yang hadir bersama dalam seluruh rangkaian tradisi.
Piter Kabiro, Sumba Timur






