Scroll Untuk Lanjut Membaca

​BANGGAI KEPULAUAN, BTN — (1 Juni 2026) – Sebuah tamparan keras kembali menghantam wajah pelayanan publik dan birokrasi di tingkat desa. Di atas aspal jalanan menuju Desa Sosom, martabat kemanusiaan seolah runtuh dan mati kutu di hadapan aturan yang kaku. Aziel, bocah malang yang baru berusia 3 tahun, terpaksa melakukan perjalanan terakhirnya menuju liang lahat dengan cara yang memilukan: terombang-ambing di atas sepeda motor karena ditolak oleh fasilitas negara yang dibiayai dari keringat rakyat. 1/06/2026

​Duka mendalam yang menyelimuti keluarga almarhum asal Desa Peling Seasa, Kecamatan Bulagi, Kabupaten Banggai Kepulauan, seketika berubah menjadi trauma batin yang teramat menganga. Di tengah tangis kehilangan anak balita mereka, keluarga harus menelan pil pahit ketika ambulans program “Berani Sehat” yang terparkir gagah di desa mereka, justru enggan bergerak mengantarkan jenazah Aziel.

​SOP Dingin yang Membunuh Rasa Kemanusiaan

​Rian Kamai, perwakilan keluarga yang mengurus pemulasaran, membeberkan kronologi kepedihan tersebut. Pengelola ambulans “Berani Sehat” secara dingin menolak memuat jenazah Aziel dengan dalih “kesepakatan internal” bahwa armada tersebut dilarang keras mengangkut mayat.

​Sebagai gantinya, keluarga yang sedang berduka itu “diusir” secara halus dan diminta mencari ambulans sejenis di Desa Tompudau. Sebuah solusi yang tidak hanya tidak masuk akal, tetapi juga memperlihatkan degradasi empati yang akut: jarak yang harus ditempuh adalah 45 kilometer.

​Bagi keluarga almarhum yang tergolong tidak mampu, jarak puluhan kilometer di detik-detik genting tersebut adalah tembok besar yang mustahil dijangkau, baik secara waktu maupun finansial.

​Akibat kebuntuan birokrasi yang dipelihara ini, pemandangan menyayat hati pun tak terhindarkan. Tanpa pilihan lain, jenazah kaku bocah 3 tahun itu harus dibonceng dan didekap erat di atas motor, membelah jalanan layaknya mengangkut barang mati menuju tempat pemakaman di Desa Sosom.

​”Di mana hati nurani mereka? Mobil itu dibeli pakai uang rakyat, uang negara. Tapi saat anak kami meninggal, kami justru diperlakukan seperti pengemis yang diusir,” cetus pihak keluarga dengan nada sarat amarah dan kekecewaan.

​Ironi Slogan “Berani Sehat” di Tengah Birokrasi yang Sakit

​Secara teknis medis, aturan memang memisahkan spesifikasi antara ambulans pasien (transpor) dan mobil jenazah demi alasan sterilisasi. Namun, berlindung di balik tameng regulasi steril ketika tidak ada opsi fasilitas alternatif di desa tersebut adalah bentuk kebutaan moral yang telanjang.

​Hukum tertinggi di negeri ini adalah keselamatan, kehormatan, dan kemanusiaan (Salus Populi Suprema Lex Esto). Ketika almarhum tidak meninggal karena penyakit menular yang membahayakan publik, pembiaran ini bukan lagi sekadar masalah ketertiban administrasi, melainkan kegagalan sistemik dalam memanusiakan manusia.

​Kini, gelombang kecaman keras mengalir deras membanjiri jagat maya setelah akun Facebook “Rian Kamai” mengunggah tragedi tersebut. Masyarakat Banggai Kepulauan meradang melihat bagaimana fasilitas umum yang diadakan menggunakan uang negara justru menjadi benda mati yang egois di hadapan rakyatnya yang sedang kesusahan.

​Rakyat Menggugat: Tuntut Evaluasi Total dan Diskresi Darurat

​Tragedi ini menjadi rapor merah sekaligus tamparan keras bagi Pemerintah Daerah Banggai Kepulauan dan pengelola Program Berani Sehat. Publik kini menuntut tindakan tegas dan nyata, bukan sekedar permohonan maaf normatif:

​Rombak Total Pengelolaan: Evaluasi menyeluruh terhadap sistem operasional ambulans Berani Sehat di Desa Peling Seasa.

​Sanksi Tegas Petugas: Copot pengelola atau petugas yang terbukti melayani masyarakat tanpa empati dan mengabaikan kondisi darurat.

​Revisi Aturan Operasional: Wajib memasukkan klausul diskresi kemanusiaan dalam aturan ambulans desa, agar aturan tidak lagi menjadi ‘berhala’ yang mengorbankan kedaruratan warga.

​Ambulans desa dibeli dari pajak rakyat dan sebesar-besarnya harus kembali untuk meringankan beban rakyat. Jangan sampai slogan mentereng “Berani Sehat” justru berubah menjadi satir yang menakutkan bagi warga miskin: “Dilarang sakit, dan dilarang mati di desa ini jika tidak punya uang.”