​WAIKELO, SUMBA BARAT DAYA, BTN – Potret buram pendidikan kembali terlihat di pesisir Sumba Barat Daya. Setiap hari, anak-anak sekolah di wilayah Waikelo terpaksa bertaruh nyawa melintasi muara pantai demi menuntut ilmu. Kondisi ini kian mencekam saat musim penghujan tiba, di mana debit air muara meningkat tajam dan mengancam keselamatan para siswa. 28/1/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Rasa was-was menyelimuti para orang tua setiap kali jam pulang sekolah tiba. Jalur muara yang menjadi akses utama hingga kini belum memiliki infrastruktur penghubung yang memadai. Akibatnya, melintasi air muara yang kerap meluap menjadi satu-satunya pilihan pahit bagi para siswa.

​”Kami sangat khawatir dengan keselamatan anak-anak. Saat hujan turun dan banjir datang, muara ini menjadi sangat berbahaya untuk diseberangi,” ungkap salah satu orang tua siswa dengan nada cemas.

​Menyikapi situasi darurat ini, pihak sekolah dan tokoh masyarakat mengimbau agar para orang tua wajib menjemput anak-anak mereka di titik muara guna meminimalisir risiko terseret arus.

​Di tengah bayang-bayang bahaya, harapan baru mulai muncul. Berdasarkan pantauan lapangan, tim dari pusat, Vertical Rescue Indonesia, telah melakukan observasi di jalur muara bagian barat Pantai Waikelo. Lokasi tersebut diproyeksikan menjadi titik pembangunan Jembatan Payung (Gantung).

​Tokoh masyarakat setempat, Abdul Wahab Awat, menegaskan bahwa kehadiran jembatan ini sudah sangat mendesak.

Kami berharap pembangunan jembatan ini segera terealisasi. Ini bukan sekadar akses jalan, tapi urat nadi keselamatan bagi anak-anak kami yang ingin meraih masa depan,” tegasnya.

  • ​Siswa terpaksa menerjang muara berbahaya akibat ketiadaan jembatan.
  • ​Risiko banjir bandang yang dapat terjadi sewaktu-waktu di jalur muara.
  • ​Pembangunan jembatan oleh Vertical Rescue Indonesia menjadi kebutuhan darurat (urgent).

​Pemerintah daerah dan instansi terkait diharapkan dapat bersinergi mempercepat proses ini agar tidak ada lagi nyawa siswa yang terancam hanya karena ingin bersekolah.

Laporan: Kabiro SBD, Eman Ledu.