DINJO, KODI BANGEDO, BTN — Harapan keluarga alm. Novri Kaka untuk mendapatkan keadilan masih membentur tembok tebal ketidakpastian. Hingga Sabtu (25/07/2026), pihak keluarga besar korban asal Desa Dinjo, Kecamatan Kodi Bangedo, Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), Nusa Tenggara Timur, mengaku belum menerima kejelasan mengenai sejauh mana perkembangan penanganan kasus hukum oleh aparat Kepolisian setempat. 26/07/2026
Langkah penegakan hukum dinilai sangat mendesak menyusul beredarnya kabar dari hasil investigasi lapangan. Terduga pelaku utama dilaporkan tengah bebas beraktivitas, bahkan disinyalir sedang bersiap untuk menggelar pesta adat di wilayah Kecamatan Kodi Balaghar tanpa tersentuh hukum.
Keluarga korban secara tegas menunjuk dua nama yang diduga kuat menjadi dalang utama aksi pengeroyokan mematikan tersebut, yakni Rendi Mbaleha (yang akrab disapa Langka Pasti) serta Rawa Tapa. Kedua orang ini ditengarai memimpin rombongan massa saat menyergap dan menganiaya korban hingga tewas di tempat.
Aksi pembunuhan sadis ini bermula dari persoalan piutang jual beli babi yang tak kunjung diselesaikan. Peristiwa berdarah tersebut meletus di Kampung Bykaha, Dusun IV, Desa Kahale, Kecamatan Kodi Balaghar, pada Minggu (12/07/2026) sekitar pukul 13.00 WITA.
Suasana tenang di Desa Kahale seketika berubah mencekam saat warga dikejutkan oleh aksi pengeroyokan terencana yang menimpa Novri Kaka. Pria yang bermaksud menagih haknya itu harus meregang nyawa akibat sabetan senjata dan tindakan brutal sekelompok orang.
Berdasarkan data yang dihimpun dari lokasi kejadian, korban bertolak dari kediamannya di Desa Dinjo sekitar pukul 10.00 WITA menuju rumah pelaku. Tanpa rasa curiga, Novri datang seorang diri dengan harapan bisa menyelesaikan urusan utang piutang secara kekeluargaan.
Nahas, niat baik korban justru disambut jebakan maut. Diduga kuat, pihak berutang bersama orang tuanya telah merancang strategi matang untuk menghabisi nyawa Novri demi menghindari kewajiban membayar utang babi tersebut.
Untuk mengelabui korban dan warga sekitar, kerumunan massa sengaja dikumpulkan di lokasi kejadian dengan modus mengadakan kegiatan hiburan berupa permainan kartu gantung. Taktik ini dipakai agar kehadiran puluhan orang di area tersebut terlihat wajar dan tidak menimbulkan kecurigaan.
Begitu korban tiba di lokasi tujuan, situasi yang sengaja diciptakan langsung memanas dalam hitungan detik. Tanpa kesempatan untuk membela diri atau melarikan diri, Novri Kaka dikepung dan dianiaya secara brutal oleh rombongan yang dipimpin oleh Langka Pasti dan Rawa Tapa.
Atas kejadian memilukan ini, keluarga besar alm. Novri Kaka memohon dengan sangat agar jajaran Kepolisian Resor Sumba Barat Daya segera mengambil tindakan tegas. Pihak keluarga mendesak polisi bergerak cepat menangkap para pelaku utama beserta seluruh pihak yang terlibat sebelum situasi keamanan di wilayah tersebut kian membara.
(Liputan Tibo – Perwakilan Wilayah NTT, Media BTN)






