Sumba Barat Daya, BTN – Harga komoditas mete di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) melonjak tajam pada tahun 2026 hingga menyentuh angka Rp22.000 per kilogram di tingkat pengumpul dan pengusaha lokal. Kenaikan harga yang signifikan ini disambut gembira oleh para petani, meski di sisi lain memicu pertanyaan publik mengenai sejauh mana keterlibatan pemerintah daerah dalam penetapan harga tersebut. 11/08/2026

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Menanggapi fenomena tersebut, salah satu pengusaha lokal di SBD menegaskan bahwa lonjakan harga mete saat ini murni disebabkan oleh mekanisme pasar bebas dan tingkat permintaan dari perusahaan penampung. Ia meluruskan bahwa patokan harga tinggi tersebut merupakan inisiatif pelaku usaha yang menyesuaikan dengan dinamika pasar, bukan hasil intervensi atau kebijakan pemerintah daerah.

​Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa mete merupakan komoditas ekspor yang pergerakan harganya sangat bergantung pada tren pasar internasional. Oleh karena itu, besaran harga jual di tingkat daerah akan selalu berfluktuasi mengikuti standar serta kebutuhan pasar global yang ditangkap oleh perusahaan-perusahaan pembeli utama.

​Di sisi lain, pengusaha tersebut menyoroti minimnya peran serta komunikasi dari pemerintah setempat terkait jaminan harga bagi para produsen lokal. Menurutnya, kabar mengenai adanya program pemerintah yang digadang-gadang akan memberikan pasokan harga menguntungkan bagi petani sejauh ini belum pernah disosialisasikan secara nyata di lapangan.

​”Terkait program pemerintah yang disebut akan memberikan pasokan harga yang menggembirakan hati petani, selama ini tidak pernah ada sosialisasi. Malahan, jika harga mete melonjak tinggi seperti sekarang, ini murni murni harga pasaran kami dengan perusahaan mitra, bukan dari pemerintah,” tegasnya saat ditemui di tempat usahanya.

​Proyeksi untuk tahun 2027 mendatang, para pelaku usaha memprediksi harga komoditas mete berpotensi tumbuh lebih stabil. Namun, tingkat stabilitas harga tersebut sangat bergantung pada konsistensi para petani dalam menjaga serta meningkatkan mutu dan kualitas buah mete yang dipanen.

​Mengingat mete merupakan komoditas unggulan daerah dengan nilai ekonomis yang tinggi, pengusaha mengimbau para petani di Sumba Barat Daya untuk terus memperluas areal tanam. Langkah pembukaan lahan baru dan peningkatan tata kelola budi daya diyakini mampu mengoptimalkan potensi ekonomi daerah serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

​Hingga berita ini diterbitkan, pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumba Barat Daya belum memberikan keterangan resmi terkait langkah pembinaan petani maupun regulasi penetapan harga komoditas mete di wilayah SBD.

Kabiro SBD, Eman Ledu