BANGGAI KEPULAUAN –BTN 06/03/2026- Aroma busuk dugaan perampokan hak nelayan dan petani di Kecamatan Totikum kian menyengat. Hasil investigasi terhadap alur distribusi BBM bersubsidi di SPBU Kompak 76.94804 Desa Sobonon mengungkap tabir gelap yang menyeret nama oknum internal Pertamina.
Bukan sekedar kelangkaan biasa, fenomena “Solar Gaib” ini diduga kuat merupakan hasil orkestrasi manipulasi data administratif yang sistematis untuk menutupi pengalihan BBM subsidi ke pasar gelap.
Berdasarkan data yang dihimpun tim investigasi, terjadi disparitas (perbedaan) angka yang sangat tidak masuk akal antara muatan kapal pengangkut dengan apa yang mendarat di tangki SPBU Totikum.
Catatan Distribusi SPBU Totikum (Januari-Februari 2026).
Januari,Pertalite mengalir deras (72 KL), namun Solar nyaris nihil.
06 Februari,Solar hanya masuk 1.000 Liter (1 KL). Angka yang dianggap menghina akal sehat untuk kebutuhan satu kecamatan.
10 & 20 Februari,Muncul “Manifes Susulan” sebesar masing-masing 20 KL Solar.
Sorotan tajam tertuju pada SBM Pertamina Luwuk (Bapak Gidan). Patut diduga, munculnya “Manifes Susulan” pasca isu ini mencuat ke publik hanyalah taktik “cuci tangan” administratif.
Narasumber utama, Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H., menegaskan bahwa manifes tersebut patut dicurigai sebagai hasil rekayasa kolom untuk melegitimasi seolah-olah Solar telah terkirim ke Totikum, padahal fisik barang tidak masuk di SPBU Totikum,hal ini diduga solar tersebut menguap ke sektor industri atau mafia black market.
”Ini adalah kejahatan administrasi yang telanjang. Awalnya data Pemda minim dan cocok dengan jeritan nelayan di lapangan. Begitu viral, tiba-tiba muncul manifes baru. SBM Pertamina Luwuk patut diduga melakukan permainan gelap dengan merekayasa dokumen susulan demi menutupi jejak digital distribusi yang bolong,” tegas Hermanius Burunaung,Ketua DPW Relawan Membela Prabowo (RAMBO) dengan nada pedas.
Kritik keras juga dilayangkan atas sikap tertutup pihak Depot Pertamina Luwuk yang enggan membuka data transparansi kuota. Sikap ini dinilai sebagai pembangkangan nyata terhadap UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Ketertutupan ini memperkuat spekulasi bahwa ada “jatah rakyat” yang sedang dipesta-porakan oleh oknum tertentu.
Meski diwarnai dugaan penyadapan perangkat komunikasi terhadap pihak-pihak yang vokal, gerakan membongkar mafia BBM ini justru semakin masif. Laporan resmi kini telah disampaikan kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Satgas Merah Putih.
Tuntutan Masyarakat,Audit Investigatif Forensik terhadap seluruh aliran BBM dari Depot Luwuk ke SPBU Totikum.
Pencopotan dan Pemeriksaan Hukum terhadap oknum SBM Pertamina Luwuk dan pemilik SPBU jika terbukti melakukan manipulasi.
Kembalikan Hak Rakyat, Jatah 30 KL Solar per bulan adalah harga mati untuk kelangsungan hidup nelayan Sobonon.
“BBM subsidi bukan bancakan oknum berdasi. Di balik manifes yang diduga direkayasa, ada nelayan yang tak bisa melaut dan anak-anak yang terancam putus sekolah karena ekonomi lumpuh,” tutup laporan tersebut.
Redaksi






