BAHODOPI, MOROWALI –BTN 23/12/2025- Di tengah gegap gempita narasi pertumbuhan ekonomi nasional dan hilirisasi industri, Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, justru menyajikan potret wajah bopeng pembangunan Indonesia. Sebagai salah satu wilayah penyumbang pajak dan investasi terbesar di Sulawesi Tengah, Bahodopi kini tak ubahnya “anak tiri” yang dipaksa bekerja keras namun dibiarkan begitu saja
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi jalan poros Bahodopi yang rusak parah. Lubang-lubang menganga dan genangan air keruh menjadi pemandangan harian yang harus ditelan bulat-bulat oleh masyarakat dan pekerja tambang. Jalan yang seharusnya menjadi urat nadi ekonomi ini telah berubah menjadi arena maut bagi para pengendara.
Ketimpangan infrastruktur ini memicu kritik tajam dari berbagai elemen masyarakat. Sangat tidak logis apabila sebuah daerah yang menyetorkan triliunan rupiah ke kas negara justru memiliki fasilitas publik yang lebih buruk daripada daerah non-industri.
”Ini bukan sekedar masalah jalan rusak, ini adalah masalah ketidakadilan struktural. Pemerintah pusat dan daerah seolah menutup mata, asyik mengeruk keuntungan dari perut bumi Bahodopi, tapi enggan memberikan hak dasar berupa infrastruktur yang layak,” tegas salah satu aktivis setempat.
Bahodopi adalah mesin uang negara, namun rakyatnya dihadiahi debu saat panas dan lumpur saat hujan. Di mana larinya alokasi pajak yang dibayarkan rakyat dan perusahaan jika jalan utama saja hancur lebur?
Jalan rusak ini bukan sekedar ketidaknyamanan, tapi ancaman nyawa. Sudah berapa banyak korban jatuh akibat kecelakaan di jalur ini? Membiarkan jalan rusak sama saja dengan membiarkan rakyat bertaruh nyawa setiap hari.
Kerusakan yang berlarut-larut mencerminkan kegagalan koordinasi antara Pemerintah Kabupaten, Provinsi, maupun Pusat. Jangan sampai publik berasumsi bahwa mereka hanya peduli pada kelancaran ekspor produk tambang, tapi abai pada keselamatan warga sekitar.
Masyarakat menuntut aksi nyata, bukan sekedar janji-janji manis saat kunjungan kerja atau menjelang kontestasi politik. Jika dalam waktu dekat tidak ada perbaikan signifikan, maka narasi “kesejahteraan dari tambang” hanyalah omong kosong belaka bagi warga Bahodopi.
Pemerintah harus segera turun tangan. Jangan tunggu kemarahan rakyat memuncak hingga terjadi blokade jalur ekonomi, baru otoritas merasa perlu bergerak. Bahodopi bukan hanya objek pemalakan pajak, Bahodopi adalah rumah bagi ribuan manusia yang berhak atas hidup yang layak dan aman.
Kabiro






