Scroll Untuk Lanjut Membaca

Sumba Barat Daya, BTN – Penyelundupan hewan kerbau dan babi dari luar pulau ke wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya melalui jalur tikus yang menjadi “armada” bagi oknum-oknum pencari keuntungan kembali disorot. 4/08/2026

Praktik ini dinilai sangat merugikan ekonomi masyarakat dan berpotensi menimbulkan wabah penyakit hewan.

Atas persoalan tersebut, Kabalai Provinsi NTT, Simon Soli,S.Pt,M.P kepada media ini menyatakan bahwa hal ini menjadi atensinya.

“Ini menjadi atensi bagi saya dan akan menindaklanjuti ke pusat sehingga menjadi agenda yang harus dicermati” ungkapnya.

Menurut Simon Soli, ulah oknum-oknum pencari keuntungan rupiah ini sangat-sangat merugikan masyarakat.

“Tidak mungkin hewan yang masuk itu lewat jalur tikus tidak membawa penyakit yang akan berpotensi akan terjadinya wabah di Sumba Barat Daya. Dan kalau sudah terjadi wabah di Sumba Barat Daya, maka kerugian ekonomi kepada masyarakat itu sangat tinggi” sebutnya.

Selain itu, lanjutnya, anggaran Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi untuk pengendalian akan membutuhkan anggaran yang cukup besar.

“Dan berikutnya bahwa proses rehabilitasinya sudah agak lama untuk bagaimana mengendalikan suatu penyakit dan anggarannya cukup besar”ungkapnya.

Ia berharap agar seluruh masyarakat di SBD jangan tergiur dengan harganya murah serta tetap waspada terhadap pemasukan tersebut.

“Kalau bisa butuh kesadaran masyarakat agar tidak membeli hewan tersebut karena berpotensi penyakit”pintanya.

Terkait pintu masuk dan keluar, Simon Soli berharap stakeholder-stakeholder terkait agar saling bahu membahu mensosialisasikan kepada masyarakat yang tidak paham atau kurang mengerti resiko pemasukan hewan ilegal seperti itu.

“Sehingga maksimal ada langkah tegas dari aparat penegak hukum kalau ada hewan ilegal yang masuk lewat pintu-pintu kecil. Serta pemerintah setempat maupun tua-tua adat setempat agar mengimbau saudara-saudara kita agar waspada tentang potensi penyelundupan dan resikonya” pungkas Kabalai menutup.

Kabiro SBD, EMAN LEDU.