BANGGAI KEPULAUAN, BTN – Komitmen Pemerintah Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) dalam mendukung kontingen daerah menuju Pekan Nasional (PENAS) Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) XVII Tahun 2026 di Gorontalo patut diacungi jempol. Namun, di balik dukungan penuh pemda, kesiapan internal pengurus KTNA Bangkep justru menuai sorotan tajam. 20/06/2026
Sebagai ajang bergengsi empat tahunan yang berlangsung pada 20–25 Juni 2026, PENAS menjadi wadah krusial untuk meningkatkan kapasitas serta memperkuat jejaring sektor pertanian dan perikanan. Sayangnya, semangat menggebu dari pemerintah daerah dinilai tidak diimbangi dengan kinerja profesional dari pengurus organisasi.
Kritik Pola Kerja “Tiba Masa, Tiba Akal”
Sejumlah kalangan menilai pengurus KTNA Bangkep terkesan menggunakan pola kerja dadakan. Ketika pemda sibuk mematangkan fasilitasi keberangkatan, internal organisasi justru baru bergerak saat waktu pelaksanaan sudah di depan mata.
”Ajang sebesar PENAS ini bukan agenda semalam. Jadwalnya sudah diketahui jauh-jauh hari. Harusnya ada perencanaan matang mulai dari pendataan, pembinaan kelompok, hingga koordinasi lintas sektor, bukan malah bersikap pasif,” ujar salah satu pengamat lokal.
Kritik ini mencuat bukan untuk menjatuhkan, melainkan sebagai evaluasi total. KTNA sebagai wadah resmi petani dan nelayan dituntut hadir sebagai motor penggerak utama, bukan sekadar “penumpang” yang memanfaatkan momentum anggaran daerah.
Menghindari Seremoni Tanpa Substansi
Masyarakat Banggai Kepulauan menaruh harapan besar agar keikutsertaan dalam PENAS 2026 tidak sekadar menjadi ajang jalan-jalan atau seremoni belaka. Kontingen harus membawa pulang output konkret:
Inovasi teknologi pertanian dan perikanan terbaru.
Jaringan kerja sama (networking) antardaerah dan investor.
Peningkatan SDM petani dan nelayan lokal.
Ketika pemerintah daerah sudah menunjukkan komitmen penuh, sudah sepatutnya pengurus KTNA membalasnya dengan kinerja yang terukur dan profesional.
Momentum PENAS 2026 harus menjadi cermin besar. Keberhasilan sebuah kontingen tidak diukur dari seberapa ramai sorak-sorai saat keberangkatan, melainkan dari seberapa keras mereka bekerja dalam senyap sebelum panggung kegiatan resmi dibuka. Tanpa persiapan matang, semangat besar pemda hanya akan berakhir menjadi seremoni tanpa substansi.






