Scroll Untuk Lanjut Membaca

​SANGIHE, BTN – Sejarah besar seringkali bermula dari pertemuan antara langit dan bumi. Dalam berbagai literatur suci dan mitologi dunia, narasi mengenai entitas surgawi yang turun ke bumi dan menjalin persatuan dengan manusia bukanlah hal baru. Namun, di Kepulauan Sangihe, narasi ini bukan sekedar dongeng pengantar tidur; ia adalah batu penjuru identitas sebuah suku. 06/03/2026

​Jika ditarik garis lurus dari sejarah migrasi manusia dan teori evolusi genetika, fenomena “titisan nirwana” muncul dalam berbagai fragmen peradaban. Mulai dari sosok Melkisedek dalam tradisi Ibrani, kemegahan Zeus di Yunani, hingga pengaruh Nimrod di Mesopotamia. Di Asia, kita mengenal welas asih Dewi Kwan Im, sementara di Nusantara, memori kolektif kita lekat dengan Dewi Sri, Dewi Anjani, hingga legenda Jaka Tarub.

​Namun, di beranda utara Indonesia, terdapat satu istilah yang merangkum kemuliaan tersebut,Sangiang.

​Istilah “Sangiang” merujuk pada sosok bidadari atau penghuni surgawi. Dalam sejarah lisan (tradisi tutur) masyarakat setempat, diyakini bahwa nama suku Sangihe lahir dari peristiwa perkawinan antara para Sangiang dengan putra-putri bumi. Pernikahan sakral ini dipercaya melahirkan garis keturunan para pemimpin, raja, dan ratu masa lampau yang membawa kejayaan di wilayah kepulauan tersebut.

​Jejak arkeologis dan toponimi (penamaan tempat) memperkuat eksistensi narasi ini,Terdapat sumber mata air jernih di puncak bukit yang secara turun-temurun diyakini sebagai pemandian para bidadari.

Meski nama “Sangiang” juga ditemukan sebagai nama pulau di wilayah lain seperti Jawa Timur, namun bagi masyarakat Sangihe, kata ini memiliki kedalaman ontologis sebagai asal-usul genetik dan spiritual.

​Secara literasi, mitologi Sangihe memiliki kemiripan pola dengan kisah-kisah besar lainnya. Sosok Ratu Lohoraung atau kisah pernikahan Sense Medunde dengan bidadari, misalnya, memiliki resonansi yang kuat dengan kisah Jaka Tingkir atau Jaka Tarub di tanah Jawa dan Pasundan.

​”Ini bukan sekedar persoalan percaya atau tidak percaya secara dogmatis,” ungkap sebuah catatan sejarah lokal. “Menjaga narasi Sangiang adalah bentuk pertahanan intelektual terhadap kearifan lokal yang lekat dengan sastra dan tradisi kita.”

​Di tengah arus modernisasi yang kerap menggerus identitas, menggali kembali sejarah Sangiang menjadi penting sebagai upaya pelestarian budaya. Terlepas dari pro dan kontra mengenai aspek mistisnya, kisah-kisah ini adalah bukti kekayaan imajinasi dan struktur sosial masyarakat Sangihe yang menempatkan pemimpinnya sebagai sosok yang memiliki kualitas “langit”.

​Menghargai tradisi Sangiang berarti menghargai akar. Karena bagi masyarakat Sangihe, sejarah bukan hanya tentang apa yang tercatat di kertas, tapi tentang apa yang mengalir di dalam darah dan ingatan kolektif.