SUMBA TIMUR – Berantastipikornews.co.id
WAINGAPU – 14/12/2025-Sudah puluhan tahun lamanya Pasar Inpres KM 4 di Kelurahan Kambajawa, Kabupaten Sumba Timur, menjadi saksi bisu kegagalan akut Pemerintah Daerah dalam mengelola aset yang dibangun dari uang rakyat. Sejak rampung pada tahun 1997, pasar megah ini tak lebih dari monumen kelalaian, terbengkalai, dan kini menjelma menjadi ‘hutan belantara’ yang memalukan di tengah kota.
Kondisi Pasar Inpres KM 4 bukan lagi sekedar tidak optimal, melainkan sebuah cermin retak yang menampakkan borok kinerja Pemda Sumba Timur. Pantauan tajam Awak Media Berantastipikornews.co.id, di lokasi menunjukkan area lapak yang sunyi, diselimuti rumput liar setinggi lutut, dan minim aktivitas. Puluhan lapak kini berdebu, sementara pedagang kecil yang tersisa harus berjuang mempertahankan hidup di tengah keterbatasan fasilitas dan ketiadaan pembeli.
Para pedagang yang bertahan menguak kepedihan yang menusuk. Mereka dipaksa berjualan dalam kondisi yang jauh dari layak akibat nihilnya penataan pasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab penuh Pemerintah.
“Kami ini seperti jualan di tengah hutan. Kadang ada pembeli, kadang tidak ada sama sekali. Ini pasar atau tempat jin buang anak? Kami mohon, bukan hanya diperbaiki, tapi diaktifkan kembali secara serius!” ungkap seorang pedagang dengan nada putus asa.
Kondisi ini diperparah dengan pembiaran terhadap pedagang liar yang masih berjejer di pinggir jalan. Ironisnya, alih-alih menertibkan dan mengarahkan mereka ke dalam pasar, Pemda justru membiarkan persaingan tidak sehat yang mencekik pedagang resmi di dalam Pasar Inpres. Ini adalah bentuk kelalaian ganda yang merugikan.
Pelipus Dhanga Mesa, salah satu pedagang yang geram, menyoroti biang keladi lain, infrastruktur penunjang yang amburadul. Ia menunjuk langsung pada buruknya akses jalan menuju terminal bus yang berdampingan dengan pasar.
“Bus dan travel sekarang sudah tidak mau singgah di terminal ini! Jalan rusak parah, dibiarkan tidak diperhatikan. Akibatnya, dagangan kami mati! Pemerintah seolah menutup mata dan telinga terhadap penderitaan kami,” kecam Pelipus.
Rakyat Kecil Dikorbankan, Aset Negara Dibiarkan Membusuk
Pelipus menegaskan bahwa kondisi pasar yang “mati” ini adalah pukulan telak bagi rakyat kecil yang menggantungkan nasib pada penghasilan harian.
“Kami ini rakyat kecil! Hasil jualan untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan rumah tangga. Kalau pasar mati, kami mau hidup dari mana?! Apakah begini cara Pemda mengurus rakyatnya?!” serunya, memancing pertanyaan kritis tentang prioritas dan keberpihakan Pemerintah.
Kondisi Pasar Inpres KM 4 Kambajawa yang dibiarkan membusuk selama bertahun-tahun ini bukan lagi masalah teknis, melainkan indikasi kuat adanya pembiaran dan pengabaian aset negara yang nilainya mencapai miliaran rupiah.
Para pedagang mendesak agar kasus terbengkalainya aset strategis ini segera mendapat perhatian serius dari aparat pengawasan internal pemerintah (APIP) dan bahkan lembaga penegak hukum.
Sudah saatnya dilakukan audit menyeluruh dan mendalam terkait pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan Pasar InPres KM 4. Publik menuntut pertanggungjawaban tegas atas kelalaian kronis yang telah merugikan pedagang kecil dan membuang-buang uang negara.
Hingga berita kritik tajam ini diluncurkan, Media Berantastipikornews masih berupaya keras mengonfirmasi pihak Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. Publik menunggu, akankah Pemda terus bersembunyi di balik alasan klasik, atau berani mengakui kegagalan dan mengambil langkah korektif yang konkret?
Kabiro Sumab Timur






