PELING TENGAH, BTN – Di bawah naungan langit sore Peling Tengah yang mulai meredup, sebuah mobil perak dengan logo tegas “Badan Gizi Nasional” membelah jalanan pedesaan. Namun, sore itu kehadirannya bukan untuk urusan administratif maupun teknis, melainkan untuk sebuah misi kasih: mengetuk pintu-pintu hati warga Desa Patukuki melalui paket takjil gratis. Sabtu, 14/03/2026
Para personel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) Banggai Kepulauan menanggalkan sejenak rutinitas dapur mereka untuk turun langsung ke jalan. Menggunakan seragam biru kebanggaan, para “Pejuang Gizi” ini menyisir jalanan desa hingga mengetuk pintu rumah-rumah warga dengan senyum yang tulus.
Momen paling menyentuh terjadi saat tim mendatangi kediaman salah satu lansia di Desa Patukuki. Dengan tangan yang sedikit bergetar namun wajah yang berbinar, sang nenek menerima bingkisan takjil itu dengan doa yang menggetarkan hati para petugas.
Semoga kalian, para pekerja di Dapur MBG Peling Tengah, senantiasa sehat. Semoga Allah menjauhkan kalian dari hal-hal yang tidak diinginkan seperti yang terjadi di tempat lain. Apa yang kalian bagikan hari ini, semoga menjadi berkah bagi kami dan ladang pahala bagi kalian. Amin,” ucapnya sembari menggenggam erat tangan petugas.
Doa tulus tersebut menjadi pelecut semangat bagi tim SPPG. Tante Naida, salah satu personel tim di lokasi, tak mampu menyembunyikan rasa harunya.
”Kami ingin hadir bukan hanya sebagai pelayan gizi secara teknis, tapi sebagai bagian dari keluarga masyarakat Peling Tengah. Melihat senyum dan mendengar doa mereka adalah ‘upah’ yang jauh lebih berharga dari apa pun,” ungkap Tante Naida.
Kegiatan berbagi takjil ini merupakan inisiatif spontan sebagai bentuk kepedulian sosial Badan Gizi Nasional di wilayah Banggai Kepulauan. Selain menjalankan tugas utama memastikan kualitas gizi anak bangsa, aksi ini menjadi jembatan silaturahmi untuk menghapus sekat antara petugas negara dan rakyat di pelosok.
Badan Gizi Nasional berharap, lewat langkah kecil di Desa Patukuki ini, semangat berbagi dapat terus tumbuh selama bulan suci Ramadan. Karena pada akhirnya, kesehatan masyarakat tidak hanya dibangun melalui makanan yang bergizi, tetapi juga melalui hati yang bahagia dan hubungan sosial yang harmonis.
Laporan: JEIN






