TAMBOLAKA – BTN 07/02/2026-Alarm bahaya berbunyi keras di Bumi Sandelwood. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang dipicu oleh virus Aphthovirus dilaporkan telah menyusup ke wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD), tepatnya di Desa Ana Lewe, Kecamatan Kodi Bangedo. Temuan ini menjadi tamparan keras bagi sistem pengawasan ternak di pintu masuk Pulau Sumba.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Hasil penelusuran tim media di lapangan menemukan kondisi yang menyayat hati. Seekor induk kerbau betina ditemukan dalam kondisi kritis dengan gejala khas PMK,mulut mengeluarkan busa berlebih, tubuh gemetar hebat saat berdiri, hingga akhirnya jatuh tumbang tak berdaya.

​Kondisi ini memicu keresahan massal. Pasalnya, virus Aphthovirus dari keluarga Picornaviridae ini dikenal sangat menular. Jika satu ekor sudah menunjukkan gejala klinis, maka ratusan ternak lainnya di radius sekitar berada dalam ancaman kematian yang nyata.

​Masuknya virus ini ke SBD diduga kuat akibat “bobolnya” pengawasan terhadap ternak dari luar Pulau Sumba. Masyarakat mempertanyakan kinerja Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan SBD. Mengapa virus yang mematikan ekonomi rakyat ini bisa melenggang bebas masuk ke wilayah pedesaan?

​”Kami butuh aksi nyata, bukan sekedar statistik. Dinas harus turun tangan melakukan lokalisasi wilayah dan vaksinasi massal sebelum seluruh ternak di Kodi habis,” cetus seorang warga dengan nada geram

​Pemerintah daerah tidak boleh melihat PMK hanya sebagai masalah medis kedokteran hewan. Di Sumba, kerbau, sapi, dan kuda adalah Simbol Martabat.

Tanpa kerbau dan sapi, prosesi belis (pernikahan adat) akan lumpuh.Kuda Sumba adalah nyawa dari atraksi Pasola. Jika populasi kuda disapu bersih oleh Aphthovirus, maka daya tarik wisata kelas dunia ini hanya akan tinggal sejarah.

​Untuk diketahui, penyebab PMK adalah virus tipe A dari genus Aphthovirus. Virus ini menyerang hewan berkuku belah. Gejala utamanya meliputi.

Luka lepuh pada mulut, gusi, dan lidah (menyebabkan air liur berbusa).

​Luka pada kuku yang menyebabkan pincang hingga kuku terlepas.

Demam tinggi yang membuat ternak menggigil dan tumbang.

​Masyarakat meminta pemerintah segera melakukan tindakan darurat. Sembari menunggu penanganan medis resmi (penyuntikan obat/vaksin oleh dokter hewan), berikut adalah langkah Bio-Security ketat yang harus dipaksakan:

Hentikan total keluar-masuk ternak dari wilayah terinfeksi (Desa Ana Lewe).Pisahkan ternak yang sakit dari yang sehat dalam radius minimal 100 meter.

Gunakan larutan pemutih pakaian atau asam sitrat (sitrun) untuk menyemprot area kandang guna membunuh virus di permukaan benda.

Dinas terkait jangan hanya duduk di kantor; turun ke pasar-pasar hewan dan desa untuk memberikan sosialisasi pencegahan.

Jika Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan SBD tetap lamban dalam merespons temuan di Kodi Bangedo, maka pemerintah secara tidak langsung sedang membiarkan kehancuran ekonomi dan budaya masyarakat Sumba. Rakyat tidak butuh janji, rakyat butuh vaksin dan perlindungan nyata bagi ternak mereka.

​Penulis: Tibo (Kaperwil NTT)