KODI UTARA, SBD –BTN 16/02/2026- Di balik sejuknya angin di Rokoraka Indah, sebuah kritik tajam meluncur dari lisan Serfinus Pati Kondo. Pemuda yang berkecimpung di lingkaran pemerintahan Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) ini seolah sedang menampar realitas sosial dan politik di tanah lodo amahu yang kian kering akan nilai ketulusan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Dalam sebuah dialog yang berlangsung di kediamannya di Desa Kendu Wela, Serfinus melontarkan kalimat yang terdengar seperti peringatan bagi para aktor publik di SBD.

​”Mencari musuh itu sangat mudah dan gampang, tetapi mencari teman, itu sangat sangat sulit,” tegas Serfinus.

​Pernyataan ini bukan sekedar pepatah usang. Di tengah hiruk-pikuk birokrasi dan persaingan kepentingan, pernyataan ini menjadi kritik pedas bagi mereka yang gemar menciptakan faksi-faksi dan memelihara konflik demi syahwat kekuasaan. Serfinus seolah mengisyaratkan bahwa di SBD, loyalitas dan pertemanan sejati telah menjadi barang langka yang kalah pamor dibanding intrik dan sikut-menyikut.

​Ia tidak berhenti di situ. Dengan nada bicara yang dalam, ia mengingatkan agar setiap individu menjadi “cahaya”, bukan “kegelapan”.​”Kita harus menjadi cahaya bagi orang lain, bukan menjadi kegelapan,” tambahnya.

​Sindiran ini patut dialamatkan kepada oknum-oknum yang justru menggunakan jabatan atau pengaruhnya untuk menggelapkan hak-hak masyarakat atau memperkeruh suasana demi keuntungan pribadi. Ajakan Serfinus untuk hidup penuh kasih sayang dan menghindari hal yang menciderai sesama adalah tamparan bagi siapa saja yang masih memelihara dendam politik atau ego sektoral yang merugikan publik.

​Menutup perbincangan, pemuda asal Kodi Utara ini menegaskan pentingnya menjadi pembawa damai. Namun, pesan ini membawa beban moral yang berat. Apakah para pemangku kebijakan di SBD sudah benar-benar menjadi pembawa damai, atau justru menjadi arsitek di balik layar munculnya konflik-konflik horizontal?

​Kritik dari “ujung barat” Sumba ini adalah alarm bagi semua pihak. Bahwa pembangunan bukan sekedar soal aspal dan beton, melainkan soal kemanusiaan yang kini tampak mulai terkikis oleh ambisi.

​Oleh: Erman Kabiro SBD,Berantas Tipikor News