BANGGAI KEPULAUAN – BTN 06/03/2026-Praktik dugaan sabotase distribusi BBM bersubsidi jenis Solar di Kecamatan Totikum kini berada di ujung tanduk. Berdasarkan analisis mendalam terhadap dokumen manifes pengiriman dan data lapangan, ditemukan ketidaksesuaian masif yang menyebabkan aktivitas ekonomi nelayan dan petani di Desa Sobonon lumpuh total akibat kelangkaan solar yang dinilai tidak wajar.
Berdasarkan dokumen Daftar Muatan (Manifest) kapal SPOB Megan Berkilau 01 tertanggal 10 Februari 2026, kapal tersebut tercatat resmi mengangkut 20.000 Liter (20 KL) Solar. Sepuluh hari kemudian, tepatnya 20 Februari 2026, kapal yang sama kembali memuat 20.000 Liter (20 KL) Solar serta 103.000 Liter (103 KL) Pertalite dari Depot Pertamina Luwuk.
Namun, kondisi di SPBU Kompak 76.94804 Desa Sobonon justru berbanding terbalik. Data Pemerintah Daerah (Pemda) hanya mencatat masuknya 1.000 Liter (1 KL) Solar ke Totikum sepanjang periode Januari hingga Februari 2026.
”Dokumen Syahbandar dan Manifes PT. Adiguna Bumi Petrol ini adalah bukti hitam di atas putih. Kapal Megan Berkilau 01 membawa solar dalam jumlah besar, tapi rakyat Totikum dipaksa melaut pakai keringat karena solarnya diduga ‘dirampok’ sebelum sampai ke SPBU,” tegas Hermanius Burunaung, Ketua DPW Rambo Sulteng.
Narasumber utama, Muhammad Saleh Gasin, S.H., M.H., mengungkapkan adanya aroma busuk keterlibatan oknum internal. Ia mensinyalir adanya upaya “cuci tangan” setelah kasus ini viral di masyarakat. Muncul laporan adanya “manifes susulan” dari SBM Pertamina Luwuk yang secara tiba-tiba menambahkan kolom tujuan Totikum untuk melegitimasi distribusi yang tidak pernah dirasakan rakyat.
”Awalnya data yang masuk ke Pemda sangat minim dan sinkron dengan laporan kelangkaan di Totikum. Begitu isu ini meledak, muncul manifes baru yang diduga hasil rekayasa kolom. Ini adalah upaya penipuan publik yang sistematis,” ujar Saleh Gasin.
Ia juga menyoroti sikap tertutup pihak SBM Depot Pertamina Luwuk yang enggan membuka data transparansi kuota, yang dinilai melanggar UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP).
Di tengah perjuangan membongkar dugaan mafia BBM ini, Saleh Gasin mengungkapkan adanya upaya intimidasi melalui penyadapan perangkat komunikasi pribadinya. Namun, ia menegaskan tidak akan mundur untuk menuntut keadilan bagi masyarakat Totikum yang dirugikan secara ekonomi oleh oknum yang diduga mengalihkan solar subsidi ke pasar gelap atau sektor industri.
Melalui laporan resmi kepada Presiden RI Prabowo Subianto dan Satgas Merah Putih, masyarakat menuntut.
Audit Investigatif Khusus terhadap aliran Solar dari Depot Luwuk menuju SPBU Kompak Totikum.
Pemeriksaan Hukum terhadap pemilik SPBU Totikum dan oknum SBM Pertamina Luwuk atas dugaan manipulasi data.
Mengembalikan jatah 30 KL per bulan untuk rakyat Totikum, menolak “penghinaan” administratif berupa jatah 1 KL.
”BBM subsidi di SPBU Totikum adalah hak rakyat yang dijamin konstitusi. Jangan biarkan mafia berpesta di atas penderitaan nelayan,” tutup rilis tersebut.
Catatan Redaksi (Data Distribusi).
- 06 Feb: Pertalite 24 KL & Solar 1 KL (Tercatat Pemda)
- 10 Feb: Solar 20 KL (Data Susulan/Misterius)
- 20 Feb: Solar 20 KL (Data Susulan/Misterius)
- Total Administratif: 41 KL vs Fakta Lapangan: 1 KL.
Redaksi






