WAINGAPU, BTN — Jumat, 30 Januari 2026, Jeritan masyarakat di pelosok Kecamatan Pinu Pahar dan Matawai Lapawu seolah membentur dinding tebal kekuasaan. Memasuki akhir Januari 2026, warga Desa Ramuk dan Desa Mahaniwa masih harus bertarung nyawa melewati akses jalan yang rusak parah dan terkepung longsor demi menyambung hidup ke Kota Waingapu.
Kondisi infrastruktur yang “sekarat” ini bukan sekadar hambatan transportasi, melainkan lonceng kematian bagi akses kesehatan dan ekonomi kerakyatan di wilayah tersebut.
Ironis adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi ini. Desa Ramuk, Mahaniwa, Katikuwai, dan Wangga Meti sejatinya adalah lumbung komoditas unggulan Sumba Timur. Porang, kemiri, sirih, hingga pinang melimpah ruah, namun hanya berakhir membusuk atau dihargai murah karena transportasi yang lumpuh total akibat cuaca ekstrem di awal tahun ini.
”Bagaimana kami mau membawa hasil bumi ke kota? Jalan dan jembatan tidak ada. Kalau musim hujan seperti sekarang, kami masyarakat dipaksa lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa,” ungkap seorang warga kepada media BTN, Jumat (30/1).
Kritik paling tajam tertuju pada sektor pelayanan publik. Absennya Puskesmas yang representatif di wilayah terdekat memaksa warga menempuh perjalanan maut menuju Puskesmas Tanarara atau RSUD Umbu Rara Meha di Waingapu dengan kondisi jalan yang nyaris tak bisa dilalui kendaraan.
“Kalau ada warga yang sakit, kami hanya bisa pasrah. Akses jalan tidak memungkinkan untuk membawa pasien dengan cepat. Apakah kami harus menunggu ada nyawa melayang baru pemerintah membuka mata?” tambahnya dengan nada getir.
Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Sumba Timur untuk segera memprioritaskan pembangunan Puskesmas di Desa Katikuwai sebagai titik sentral pelayanan medis bagi desa-desa sekitar yang selama ini terisolasi.
Masyarakat menilai ada ketimpangan pembangunan yang sangat mencolok. Ketiga desa ini seolah dianaktirikan dalam peta pembangunan daerah. Aspirasi ini merupakan teguran keras bagi Bupati Sumba Timur dan para wakil rakyat di DPRD Kabupaten Sumba Timur.
- Jalur Pinu Pahar menuju Matawai Lapawu harus segera diperkeras dan dibangun drainase permanen.
- Mengakhiri isolasi wilayah yang selalu terjadi setiap kali debit air sungai naik.
- Menjamin hak dasar kesehatan bagi warga di pedalaman agar tidak lagi dianaktirikan.
Kesejahteraan masyarakat pedalaman tidak akan pernah tercapai selama birokrasi hanya duduk manis di balik meja, sementara rakyatnya bertaruh nyawa di jalanan berlumpur. Bupati dan DPRD ditantang untuk membuktikan janji politik mereka: apakah pembangunan hanya milik orang kota, atau milik seluruh rakyat Sumba Timur?






