Sumba Barat Daya, BTN – Jeritan masyarakat Sumba Barat Daya (SBD) dipastikan bakal semakin menyayat hati. Di tengah hantaman krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tak kunjung teratasi, beban hidup warga kini kian diperparah dengan lonjakan drastis tarif pengiriman air minum bersih yang meroket hingga mencapai angka Rp400 ribu per tangki. 16/07/2026
Kondisi pelik ini terungkap setelah Persatuan Sopir Oto Tangki Kota Loura secara terbuka mengumumkan penyesuaian tarif baru. Pengumuman sepihak yang memaksa rakyat untuk maklum ini disampaikan langsung di hadapan sejumlah awak media di Lapangan Alun-Alun Kota Tambolaka pada Kamis, 16 Juli 2026.
Sebelum gelombang krisis BBM ini mencekik, tarif air bersih untuk wilayah dalam kota masih bertengger di angka Rp100 ribu per tangki. Sementara itu, untuk pengiriman ke wilayah luar kota, konsumen biasanya hanya merogoh kocek berkisar antara Rp130 ribu hingga Rp150 ribu saja.
Namun, potret tersebut kini tinggal kenangan. Akibat kelangkaan BBM yang akut serta melambungnya harga bahan bakar di pasaran yang tak terkendali, Persatuan Sopir Tangki Kota Loura berdalih tidak punya pilihan lain selain melempar beban operasional tersebut ke pundak konsumen.
Tanpa basa-basi, perwakilan persatuan sopir meminta masyarakat untuk tidak kaget dengan kebijakan baru ini. Untuk pengiriman dalam kota, tarif resmi kini telah dipatok naik menjadi Rp120 ribu per tangki, sebuah kenaikan yang langsung memicu keluhan di tingkat rumah tangga.
Ironisnya, bagi warga yang berdomisili di luar kota, mereka harus bersiap menghadapi kenyataan pahit. Tarif air bersih melonjak gila-gilaan dari Rp200 ribu hingga menembus Rp400 ribu per tangki, sebuah angka yang dinilai sangat mencekik dan tidak masuk akal bagi kantong rakyat kecil.
”Kami menyampaikan permohonan kepada masyarakat agar jangan heran jika tarif di luar kota dinaikkan drastis hingga Rp200 ribu sampai Rp400 ribu. Ini semua terpaksa kami lakukan mengingat jarak tempuh yang jauh dan sulitnya mendapatkan BBM,” ujar perwakilan sopir mencoba membela diri.
Di sisi lain, para sopir oto tangki ini berharap masyarakat yang berada di posisi terjepit bisa memahami dilema yang mereka hadapi. Mereka berdalih bahwa langkah tidak populer ini diambil murni demi menutupi biaya operasional yang membengkak, bukan untuk mencari keuntungan sepihak.
Di tengah situasi pelik ini, para sopir juga menyelipkan imbauan agar masyarakat lebih bijak dan hemat dalam menggunakan air bersih. Imbauan ini seolah menjadi sinyalemen kuat bahwa krisis air di SBD akan semakin panjang lantaran proses distribusinya kini dihadang tantangan besar.
Kenaikan tarif yang ugal-ugalan ini seketika memicu pertanyaan kritis di tengah publik: Di mana peran pemerintah daerah untuk mengintervensi kelangkaan BBM dan menjaga stabilitas harga kebutuhan dasar rakyat? Hingga berita ini diturunkan, masyarakat SBD dipaksa menelan pil pahit, bertaruh antara dompet yang kering atau kerongkongan yang haus.
Kabiro SBD, Eman Ledu.






