Waingapu, Sumba Timur, BTN – Kondisi Pasar Inpres KM 4 di Kelurahan Kambajawa, Kecamatan Kota Waingapu, Kabupaten Sumba Timur, kembali menjadi sorotan publik. Pasar yang dibangun dengan anggaran miliaran rupiah dari uang rakyat itu kini terlihat terbengkalai, dipenuhi semak belukar, serta banyak bangunan yang rusak dan tidak difungsikan sebagaimana mestinya. 14/06/2026
Berdasarkan pantauan di lokasi, sejumlah kios dan los pasar tampak kosong dan mengalami kerusakan. Ironisnya, para pedagang yang seharusnya menempati bangunan pasar justru memilih mendirikan lapak-lapak sederhana di pinggir jalan demi mempertahankan usaha mereka.
Salah seorang pedagang, Ester Kakabitu, mengaku kecewa dengan kondisi pasar yang hingga kini belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.
“Kami terpaksa membangun lapak kecil di pinggir jalan supaya dagangan bisa dilihat pembeli. Kalau hanya mengandalkan bangunan yang ada, kami sulit mendapatkan penghasilan. Setiap hari kami berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Pelipus Tamo Ama, pemilik warung makan yang berjualan di kawasan pasar tersebut.
“Sekarang sudah jarang ada kendaraan dan sopir travel yang singgah di sini. Pembeli semakin sedikit. Kami berharap pemerintah melihat langsung kondisi pasar ini dan mencari solusi,” katanya.
Miliaran Rupiah Terancam Mubazir
Masyarakat menilai kondisi Pasar Inpres KM 4 merupakan bentuk pemborosan aset publik yang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Pasar yang dibangun dengan dana besar itu seharusnya menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat, bukan justru berubah menjadi bangunan kosong yang perlahan rusak dimakan waktu.
Warga mempertanyakan sejauh mana perhatian pemerintah daerah terhadap nasib para pedagang yang setiap hari berjuang mencari nafkah di tengah kondisi pasar yang semakin memprihatinkan.
Janji Tinggal Janji
Menurut warga, persoalan Pasar Inpres KM 4 sudah berlangsung sejak lama, bahkan sejak era kepemimpinan almarhum Lukas Kaborang. Meski telah terjadi beberapa kali pergantian bupati dan anggota legislatif, kondisi pasar dinilai tidak mengalami perubahan yang signifikan.
Masyarakat mengaku selama masa kampanye politik, berbagai janji revitalisasi dan penataan pasar kerap disampaikan kepada pedagang. Namun hingga saat ini, janji tersebut belum juga terwujud.
“Setiap musim politik selalu ada janji perbaikan pasar. Tapi setelah terpilih, kami tidak melihat perubahan nyata. Yang kami butuhkan bukan janji baru, tetapi tindakan nyata,” ungkap seorang pedagang.
DPRD dan Pemda Diminta Bersuara
Sebagai bentuk upaya konfirmasi dan keberimbangan informasi, media ini mencoba menghubungi beberapa anggota DPRD Sumba Timur melalui sambungan telepon untuk meminta tanggapan terkait kondisi Pasar Inpres KM 4. Namun hingga berita ini diturunkan, nomor telepon beberapa anggota dewan yang dihubungi tidak aktif dan belum dapat memberikan keterangan resmi.
Masyarakat berharap para wakil rakyat yang memperoleh mandat dari suara rakyat dapat lebih peka terhadap persoalan yang dihadapi pedagang kecil dan memperjuangkan solusi melalui fungsi pengawasan serta penganggaran yang dimiliki DPRD.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Sumba Timur juga didesak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pasar, termasuk menyiapkan program revitalisasi yang benar-benar mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
Pasar Inpres KM 4 yang dibangun dari uang rakyat seharusnya menjadi sarana peningkatan kesejahteraan masyarakat. Jika terus dibiarkan rusak dan tidak terurus, maka aset bernilai miliaran rupiah itu hanya akan menjadi simbol kegagalan pengelolaan fasilitas publik dan meninggalkan pertanyaan besar tentang keberpihakan pemerintah terhadap ekonomi kerakyatan.
Hingga berita ini diterbitkan, media masih membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Dinas Perdagangan, serta anggota DPRD Sumba Timur terkait kondisi Pasar Inpres KM 4 Waingapu.






