PALU, SULAWESI TENGAH –BTN 21/04/2026- Di balik luasnya cakrawala politik Indonesia, muncul sebuah narasi kuat tentang ketangguhan. Dra. Hj. Sri Indraningsih Lalusu, MBA, legislator senior yang dikenal memiliki integritas tajam, kembali menegaskan posisinya dalam kancah perjuangan hak sipil. Mengambil momentum hari bersejarah bagi kaum perempuan, ia merefleksikan bahwa politik bukanlah sekedar panggung kekuasaan, melainkan media suci untuk menjaga martabat kemanusiaan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

​Metafora seorang penunggang kuda yang menaklukkan kegersangan gurun menjadi representasi visual yang kuat bagi Sri Lalusu. Foto beliau di atas kuda Arab yang gagah bukan sekedar potret estetika, melainkan simbol filosofis tentang pengendalian diri, ketenangan di tengah badai, dan keberanian untuk mengambil kendali di medan yang penuh tantangan demi kemaslahatan publik.

​Melalui manifesto “Perempuan Pilih Perempuan,” Sri Lalusu mengirimkan pesan elektoral dan sosial yang sangat substansial. Baginya, kehadiran perempuan di parlemen bukan sekedar formalitas untuk menggugurkan kewajiban kuota 30 persen. Kehadiran tersebut adalah mandat ideologis untuk memastikan suara-suara dari ruang domestik dan hak anak-anak mendapatkan pembelaan yang paling autentik.

​Ia berargumen bahwa empati perempuan adalah instrumen politik yang paling ampuh. Menurut Sri Lalusu, kebijakan yang dilahirkan tanpa sentuhan perspektif perempuan cenderung bersifat kaku dan seringkali abai terhadap detail-detail kemanusiaan yang krusial bagi ketahanan keluarga sebagai unit terkecil dalam bernegara.

​Visi politik Sri Lalusu kali ini difokuskan pada empat pilar transformatif. Pilar pertama adalah Pendidikan Berkeadilan. Ia meyakini bahwa pendidikan bagi anak perempuan adalah investasi jangka panjang yang paling menguntungkan bagi sebuah bangsa, karena mendidik perempuan berarti sedang mendidik sebuah generasi.

​Kedua, beliau menyoroti Kemandirian Ekonomi. Di tengah dinamika pasar yang tidak menentu, Sri Lalusu mendorong regulasi yang lebih memihak pada perlindungan tenaga kerja perempuan dan penguatan ekosistem kewirausahaan. Ia percaya bahwa perempuan yang mandiri secara finansial adalah pilar utama bagi kedaulatan ekonomi daerah.

​Pilar ketiga yang menjadi komitmennya adalah Integritas Spiritual. Baginya, politik tanpa sandaran nilai ketuhanan dan etika hanya akan berujung pada kehampaan. Ia menekankan bahwa pemimpin perempuan harus menjadi teladan dalam menjaga kejernihan nurani dan kejujuran di tengah godaan pragmatisme politik yang semakin kuat.

​Pilar terakhir adalah Kedaulatan Rasa Aman. Sri Lalusu bersuara lantang mengenai pentingnya jaminan keamanan bagi perempuan, baik di lingkungan kerja maupun di ruang publik. Ia berkomitmen mendorong produk hukum yang mampu memberikan proteksi maksimal terhadap segala bentuk diskriminasi dan kekerasan gender.

​Filosofi kepemimpinannya menitikberatkan pada konsep “Politik Bermartabat”. Beliau menekankan bahwa akses kekuasaan yang terbuka lebar bagi perempuan tidak boleh menanggalkan nilai-nilai kesantunan dan etika. Baginya, kemenangan yang hakiki adalah kemenangan yang diraih tanpa menjatuhkan kehormatan orang lain.

​”Peran strategis perempuan bukan sekedar tentang seberapa besar akses yang kita miliki, tetapi tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai kejujuran dan rasa hormat di tengah perebutan kepentingan,” ujar Sri Lalusu dalam keterangan tertulisnya, Selasa (21/04/2026).

​Pesan ini menjadi pengingat yang elegan bagi seluruh aktor politik di Sulawesi Tengah. Integritas dan karakter yang kuat diposisikan sebagai modal utama dalam memimpin, di mana setiap kebijakan yang diambil harus mampu menjadi solusi bagi rakyat yang terpinggirkan, khususnya kaum perempuan di pelosok daerah.

​Semangat Kartini yang ia usung bukanlah sekadar perayaan seremonial tahunan. Sri Lalusu mengajak seluruh perempuan untuk terus bergerak maju dengan kecerdasan dan sikap progresif, namun tetap berpijak pada akar etika yang kokoh sebagai identitas bangsa Indonesia yang luhur.

​Dengan menutup pernyataan lewat pekikan “Merdeka!”, ia mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bagi perempuan adalah ketika mereka memiliki kedaulatan penuh atas pilihan hidupnya dan dihormati dalam setiap keputusannya. Semangat ini diharapkan menjadi api yang terus menyala dalam jiwa para penggerak perubahan.

​Citra beliau yang menatap tajam ke depan dari atas pelana kuda di tengah gurun menjadi pengingat visual akan ketahanan seorang Srikandi modern. Dedikasi ini menunjukkan bahwa meski medan yang dihadapi penuh dengan debu dan rintangan, visi untuk mewujudkan keadilan tidak boleh goyah sedikit pun.

​Melalui rilis ini, Dra. Hj. Sri Indraningsih Lalusu, MBA, tidak hanya sedang berkampanye tentang gender, namun sedang menawarkan standar baru dalam berpolitik: sebuah politik yang elegan, penuh empati, namun tetap tajam dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Sulawesi Tengah.

​Apakah ada bagian spesifik dari visi Sri Lalusu ini yang ingin Bapak tonjolkan lebih tajam lagi dalam rilis berikutnya?