Scroll Untuk Lanjut Membaca

​WAINGAPU, BTN — 21 Juni 2026, Semangat kebersamaan dan pelestarian warisan leluhur Nusantara kembali bergelora di Pulau Sumba. Keluarga besar masyarakat Bajawa (Ngada) dan masyarakat Kodi (Sumba Barat Daya) menggelar kolaborasi prosesi adat akbar di Waingapu, Sumba Timur, pada Sabtu (20/06/2026). Momentum bersejarah ini menjadi simbol kuat dalam mempererat tali persaudaraan lintas suku dan budaya di Nusa Tenggara Timur (NTT). 21/06/2026

​Acara yang berlangsung khidmat dan sarat makna ini turut mengukuhkan langkah Nona Clerecians Leztarari Tende, yang menjadi bagian inti dari prosesi sakral tersebut. Setiap tahapan ritual dijalankan dengan presisi tinggi sesuai tradisi masing-masing suku, memancarkan pesona magis sekaligus penghormatan mendalam terhadap leluhur yang terus dijaga di tengah era modern.

​Jembatan Kebinekaan dan Gotong Royong

​Kolaborasi dua kekuatan budaya besar ini tidak sekedar mempertemukan dua keluarga, tetapi juga menegaskan bahwa keberagaman adat istiadat di NTT adalah sebuah kekayaan, bukan pemisah. Sepanjang acara, nilai gotong royong (kebersamaan) dan rasa saling menghormati tercermin kuat dari antusiasme kedua belah pihak.

​”Pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada seremoni semata. Ini adalah warisan hidup yang harus kita tiupkan rohnya ke generasi muda agar identitas kita tidak tergerus arus modernisasi,” ujar salah satu tokoh adat yang hadir di lokasi.

​Berlangsung Aman dan Sarat Antusiasme

​Berdasarkan pantauan di lapangan, seluruh rangkaian prosesi adat berjalan dengan tertib, aman, dan lancar. Kehadiran masyarakat dari berbagai latar belakang sosial yang memadati lokasi acara menjadi bukti sahih bahwa adat dan budaya masih memegang kendali penting dalam tatanan kehidupan sosial masyarakat NTT.

​Melalui pergelaran ini, kerukunan antara masyarakat Bajawa dan Kodi di Waingapu diharapkan mampu menjadi cetak biru (blueprint) nyata bagi daerah lain: bahwa perbedaan budaya sejatinya adalah jembatan emas untuk memperkokoh persaudaraan dan memperkaya nilai kebhinekaan dari generasi ke generasi.

​Laporan: Piter (Kepala Biro Sumba Timur)