Jakarta, BTN — 26 September 2025 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang digembar-gemborkan sebagai solusi untuk meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, kini menorehkan noda hitam yang mematikan.
Alih-alih menyehatkan, program andalan Presiden ini justru berubah menjadi mimpi buruk di berbagai daerah. Ratusan siswa dilaporkan jatuh sakit dan dilarikan ke rumah sakit secara massal setelah menyantap makanan yang disediakan oleh program MBG.
Insiden tragis ini bukan sekadar kecelakaan, melainkan bukti nyata kegagalan sistemik yang mengancam nyawa generasi penerus bangsa.
Makanan Basi, Nyawa Taruhannya
Kepanikan melanda banyak daerah saat anak-anak tiba-tiba kolaps dengan gejala keracunan parah: mual, muntah, pusing, hingga sesak napas. Kasus Luar Biasa (KLB) ini mengakibatkan banyak siswa harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit, bahkan beberapa di antaranya dalam kondisi kritis.
Tragedi ini secara telanjang membongkar kelalaian total dari pihak berwenang, mulai dari Pemerintah Daerah (Pemda), Dinas Kesehatan, hingga Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) setempat. Pengabaian ini (criminal negligence) secara langsung menempatkan nyawa anak-anak dalam bahaya yang seharusnya bisa dicegah dengan pengawasan yang ketat.
Suara Kritis: Tuntut Pertanggungjawaban Presiden
Pakar hukum internasional, Prof. Sutan Nasomal, mendesak Presiden RI Prabowo Subianto untuk bertindak tegas. “Ini bukan lagi masalah teknis, tapi sudah menyangkut nyawa anak-anak. Kami menuntut audit menyeluruh dan transparan terhadap semua vendor yang terlibat dalam program MBG,” tegasnya.
Nasomal menambahkan bahwa pemerintah tidak boleh ragu untuk menerapkan sanksi maksimal dan menuntut pertanggungjawaban penuh atas tragedi ini. “Saya mendesak Kepolisian dan Tim Epidemiologi segera mempublikasikan hasil uji laboratorium untuk mengonfirmasi sumber cemaran pangan,” pintanya.
*Mampukah Presiden Melindungi Anak Bangsa?*
Kasus keracunan ini adalah peringatan keras bagi pemerintah. Jika Program MBG gagal menjamin kualitas dan keamanan makanan, maka yang terjadi adalah pembunuhan perlahan terhadap masa depan anak-anak Indonesia.
“Jika pemerintah gagal menanggapi tragedi ini dengan langkah-langkah fundamental, maka terbukti sudah bahwa mereka gagal total secara etis dan konstitusional dalam melindungi kesehatan dan masa depan anak bangsa dari momok yang diciptakannya sendiri,” tutup Nasomal.
Pertanyaannya kini, akankah Presiden berani mengambil langkah drastis, merevisi total, atau bahkan menghentikan sementara program ini demi keselamatan anak-anak? Atau akankah nyawa anak-anak terus dikorbankan demi program yang hanya indah di atas kertas?






